Bola Kaki Dari Plastik

…bola kaki dari plastik
ditendang mampir ke langit
pecahlah sudah kaca jendela hati
sebab terkena bola tentu bukan salah mereka…

Masa kecil saya habiskan di pinggiran kota, di tempat anak-anak seusia saya juga tumbuh, bersama adik laki-laki dan adik perempuan saya. Saya beruntung lahir dan dibesarkan di era 90-an, dimana gadget dan segala kecanggihan teknologi belum jadi cerita. Orang tua kami memiliki rumah dengan halaman yang cukup luas untuk langkah kecil lari kami anak-anaknya, dihiasi berbagai tumbuhan dan tanaman, kolam kecil dan pepohonan.

Tepat di depan rumah kami adalah tanah lapang yang sedikit berbatu, berukuran sekitar 50 x 30 meter; di sebagian sisinya terhampar semak berduri dan ceceran sampah rumah tangga, bercampur pecahan kaca / beling serta paku; di sisi yang lain ditumbuhi sedikit rumput Jepang apabila musim penghujan tiba; di tengah tanah lapang itu tumbuh pohon melinjo / tangkil dengan tinggi 6-7 meter yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Sisi utara tanah lapang berbatasan langsung dengan rumah kami, sisi timur dibatasi tembok 3 meter yang menutup halaman belakang rumah tetangga, sedangkan sisi selatan dan barat dikelilingi pondasi kecil yang berbatasan dengan jalan kampung dan halaman belakang suatu rumah bedeng / rumah kontrakan deret.

Di sekitar rumah kami memang terdapat banyak rumah bedeng, dari yang sempit sederhana sampai yang cukup kokoh dan bersih. Rumah-rumah bedeng itu dihuni oleh keluarga-keluarga muda dari berbagai latar belakang profesi; penjual mie ayam keliling, sopir travel, tukang bangunan, bahkan guru olahraga SD saya pun sempat tinggal di salah satu rumah bedeng tersebut. Saya tumbuh bersama teman-teman kampung yang sebagian besar berasal dari keluarga di rumah-rumah bedeng tersebut.

Agus, Beni, Asih dan seorang lagi adik bayi adalah empat bersaudara yang tinggal di rumah bedeng samping lapangan. Ibu mereka bernama Kamisah seorang buruh cuci harian, dan ayah seorang penjual mie ayam keliling. Saya pernah masuk ke dalam rumah mereka, bau pesing luar biasa menyengat, mungkin berasal dari ompol si adik bayi.

Agus adalah anak yang cukup nakal. Suatu ketika, dia dan teman-temannya mencegat saya dan Tono, saudara sepupu saya, sekitar 50 meter dari rumah untuk meminta uang / memalak Tono. Waktu itu saya pikir mereka hanya bercanda ingin mengerjai Tono, saya cukup mengenal mereka. Tono mencoba melawan dengan memasang kuda-kuda ala beladiri Kempo, ekstrakulikuler yang diikutinya di sekolah. Agus melayangkan satu tendangan tinggi mengarah tepat ke pipi Tono. Plak! Selesai. Kami membatalkan niat pergi jajan ke warung. Hormat saya untuk Tono atas keberaniannya saat itu.

Beni lebih santai dan jenaka, dia suka bercanda, walau kadang songong juga. Beni mengidolakan pesepakbola Brasil Ronaldo yang saat itu sedang sakti-saktinya. Secara fisik, Beni lebih mirip Ronaldinho yang waktu itu belum eksis di persepakbolaan dunia. Giginya tonggos, suka tersenyum dan tertawa.

Asih adik perempuan mereka cerewetnya bukan main. Saya suka membandingkannya dengan tokoh Consuelo dalam telenovela Maria Celeste kalau tidak salah, yang sedang booming saat itu. Saya pernah bertengkar dengannya di pekarangan samping rumah, entah soal apa. Saya menyerah pada cerewet dan kengototannya waktu itu.

Di rumah bedeng yang sama tinggal pula keluarga salah satu teman kami, Seno. Ibunya seorang single parent. Keluarga ini baru pindah belakangan di era kami bermain, Seno semacam “anak baru” di lingkungan kami. Seno memiliki kakak laki-laki yang telah beranjak dewasa, kakak perempuan bernama Leha yang genit dan cukup seksi, serta adik batita laki-laki bernama Rizki.

Kakak laki-laki Seno kadang ikut bermain bersama kami, biasanya menjadi penjaga gawang. Sedangkan Leha, saya suka mencuri-curi pandang saat dia selesai mandi, karena halaman belakang rumah bedeng mereka memang terbuka. Seno teman yang murah senyum dan lebih sering disibukkan menjaga Rizki.

Masih di rumah bedeng yang sama, tinggal keluarga Devi, si anak bisu yang memiliki kepercayaan diri luar biasa. Devi sama sekali tidak malu atau minder menjadi bahan olokan kami. Ayahnya seorang sopir angkot. Devi memiliki seorang adik laki-laki berusia sekitar 4-5 tahun. Kalau saya tidak salah, keluarga Seno dan keluarga Devi masih memiliki hubungan kerabat. Dalam pergaulan kami, teman-teman sering sekali menjodohkan saya dengan Devi, entah dari mana ujung pangkalnya. Gawatnya, Devi meresponnya dengan malu-malu tapi mau. Lucu ya.

Di rumah bedeng seberang jalan depan rumah, tinggal teman kami bernama Wiwid, laki-laki. Ayahnya seorang pegawai PT. Kereta Api. Wiwid mempunyai seorang adik batita perempuan yang gemuk dan lucu, saya tak ingat namanya. Wiwid termasuk teman yang tak terlalu sering bermain bersama kami, tetapi biasanya dia dapat langsung membaur setelah lama tak terlihat. Wiwid tipikal anak baik-baik dan polos yang kadang juga keras, tak jarang berselisih dengan salah satu dari kami.

Anto dan Usman, kakak beradik yang tinggal di rumah bedeng belakang rumah. Keduanya berjualan pempek keliling untuk membantu orang tua membayar biaya sekolah. Luar biasa ya. Yoo…pempek goreengg… sambil membawa keranjang berisi pempek, cuka dan mangkuk kecil dari plastik, biasanya siang atau sore hari sepulang sekolah. Saya sering membeli pempek mereka karena cukanya pedas dan terasa nikmat, apalagi jika disantap beramai-ramai, tetapi membuat gigi terasa ngilu bila terlalu banyak memakannya.
Anto dan Usman dalam pikiran saya waktu itu mirip dengan duo komedian Jimmy Gideon dan Sion Gideon, sama-sama gempal, kocak, tapi sederhana.
Saya pernah bermain ke pemukiman rumah bedeng mereka, seorang pria bertanya sambil tersenyum “Lu anak orang kaya kok main-main sampe kesini?” Pertanyaan yang tak terlupakan, saya merasa dibedakan dengan anak-anak lainnya. Saya tak ingat jawaban saya pada waktu itu, tetapi setelah itu saya baru menyadari bahwa seperti itulah keluarga mereka memandang keluarga kami, seperti itulah orang dewasa membangun sendiri tembok pemisah satu dengan lainnya.

Bergeser ke pemukiman samping rumah, tinggal keluarga seorang teman bernama Dede, bukan di rumah bedeng. Dede adalah salah satu cucu dari pak haji yang terkenal di kampung kami. Ibunya membuka sebuah warung yang menjual sembako, sayur, lauk dan segala macamnya. Saya sering diminta orang tua saya untuk membeli bahan makanan di warung itu, warung Teh Jum. Sedikit dari yang saya tahu, Dede memiliki seorang kakak laki-laki yang telah beranjak remaja dan tidak termasuk dalam kumpulan bermain kami.
Dede hampir selalu memakai kaos kaki putih panjang dikombinasi sandal jepit atau sandal selop hotel saat bermain. Entah apa yang ada di pikirannya.

Ada juga teman yang cukup sering bermain bersama kami, namanya Agus Buduk, dipanggil begitu karena kakinya penuh bercak bekas luka koreng dengan tekstur kulit sangat kering. Agus Buduk bertubuh mungil tetapi berani dan tengil, tidak semua teman menyukainya. Saya tak tahu pasti dia tinggal dimana. Saya pernah mengajaknya berkelahi karena mengkasari saya saat kami sedang bermain bola.

Satu lagi bernama Pani, juga biasa dipanggil Panu. Saya juga tak ingat dia tinggal dimana, yang jelas di pemukiman rumah bedeng belakang. Wajahnya adalah versi kecil dari almarhum pelawak Bagyo yang berjaya di tahun 70-an. Bagi saya, Pani adalah teman yang sangat menghibur hanya dengan ekspresi wajahnya.

Terakhir, kalau tidak salah dia adalah saudara kandung Pani, namanya pun saya lupa-lupa ingat, sebut saja Epi. Dia berkulit coklat gelap dengan gaya bicara ngotot. Tak banyak yang saya ingat darinya. Maafkan saya Epi.

Setiap siang menjelang sore, mereka berdatangan ke lapangan depan rumah. Kami bermain apa saja; maling-malingan (berlari kejar-kejaran polisi penjahat), kelereng, pletokan (tembak-tembakan dari bambu kecil), tepok wayang, benteng, gobak sodor, layang-layang, berburu capung, balapan ban bekas dan yang paling sering adalah sepakbola. Pertandingan sepakbola selalu membuat keki tetangga depan rumah seberang lapangan, Bu Sis namanya. Beliau memang terkenal galak, apalagi jika bola kami masuk ke halaman rumahnya. Bu Sis we hate youuuu! Hahaa

Teman-teman yang memiliki bakat pertukangan membuat gawang dari batang bambu yang diikat dengan tali rafia, satu di sisi dekat tembok tetangga sebelah timur, dan satu di sisi barat diikatkan ke pohon tangkil sebagai salah satu tiang gawang. Lapangan pertandingan kami mungkin hanya seluas lapangan futsal, dengan kombinasi bebatuan dan semak berduri. Garis lapangan hanya berlaku di sisi selatan dan kedua sisi gawang. Bola kaki dari plastik biasanya kami beli secara patungan atau salah satu dari kami sudah membeli dan membawanya.

Hampir setiap sore saya dan Ruben adik laki-laki saya ikut bermain. Kadang hanya empat lawan empat atau lima lawan lima, seadanya yang datang saja. Tak jarang pula anak-anak yang bukan dari kumpulan kami ikut bergabung bermain, sehingga lapangan menjadi penuh dan ramai. Kalau sudah begitu biasanya kami melakukan substitusi / pergantian pemain. Kami bertelanjang kaki tanpa alas, luka tergores batu atau tertusuk duri sudah biasa. Oper kanan oper kiri, umpan satu-dua, umpan lambung, menggiring bola mengecoh lawan, memantulkan bola ke tembok pagar rumah, selebrasi gol menirukan pemain idola kami. Luar biasa. Pertandingan akan berakhir saat Maghrib, atau hujan petir, atau jika kekurangan pemain yang sangat ekstrim, misal hanya tersisa empat orang di lapangan.

Pertandingan sepakbola menjadi lebih menggairahkan menjelang Piala Dunia 1998. Sampai-sampai ada yang melukis logo World Cup 1998 France dengan cat putih di tembok tetangga sisi timur lapangan. Kami memiliki tim jagoan dan pemain favorit masing-masing. Saya menjagokan Italia dan pemain favorit saya Christian Vieri. Menyenangkan sekali.
Saat Piala Dunia berlangsung dan setelahnya nama Perancis dan Zinedine Zidane lah yang menjadi harum di kalangan kami.

Tahun demi tahun berlalu, kami beranjak remaja. Pertandingan sepakbola mulai jarang dimainkan, para pemain mulai menghilang; ada yang sibuk dengan urusan sekolah, membantu orang tua, atau pindah rumah. Kami mulai digantikan oleh para pemain baru, pemain lama mulai terpinggirkan, hanya menonton di sisi lapangan. Memasuki masa Sekolah Menengah Pertama (SMP) kami tak pernah lagi bermain bersama, hingga akhirnya saya meneruskan studi Sekolah Menengah Atas (SMA) di Yogyakarta.
Orang tua memutuskan membangun pagar tembok mengelilingi lapangan yang secara tak langsung memperkecil akses teman-teman untuk bermain di lapangan. Semak-semak dibersihkan, berganti tanaman hias. Dibangun juga jalan paving blok melintang di tengah lapangan, sebagai akses mobil keluarga kami melintas.

Bertahun-tahun kemudian, saya sempat bertemu Agus Buduk dan Usman di waktu dan tempat terpisah, keduanya sama-sama menjadi kernet bus Damri jurusan Gambir – Tanjung Karang. Teman-teman kampung yang lain, entah kemana kehidupan telah membawa mereka. Semoga semuanya memiliki kehidupan yang baik dan berkecukupan.

Agus, Beni, Asih, Seno, Devi, Leha, Anto, Usman, Pani, Epi, Dede, Wiwid, Rizki, Agus Buduk, dan teman-teman lain yang terlupakan, terimakasih.

…tanah lapang hanya tinggal cerita
yang nampak mata hanya para pembual saja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s