Anyer 10 Maret; Episode Soeharto

Tommy kecil yang usianya belum genap 4 tahun menagih janji ayahnya yang seminggu sebelumnya memutuskan untuk membatalkan liburan keluarga ke Yogyakarta. Ayahnya, Letnan Jenderal Soeharto, yang sedang menulis catatan belanja sayur kemudian tercenung dan luluh setelah menatap ‘mata meminta’ dari anak laki – laki kesayangannya itu. Kebetulan pada saat itu Soeharto sedang merasa jenuh, ingin melepaskan diri sejenak dari hiruk – pikuk aktivitas di Markas Besar Angkatan Darat. Kepalanya pusing memikirkan harga barang-barang kebutuhan pokok yang melonjak tinggi, yang membuat istrinya bete selalu. Ditambah lagi situasi politik nasional sedang tak menentu pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965, dan semakin memanas menjelang Maret 1966. Soeharto tak suka pada hal – hal yang tak pasti, dan dia paling benci pada demonstrasi – demonstrasi mahasiswa yang setiap hari membuat macet jalanan ibukota. Soeharto sudah muak. Soeharto galau.

Kamis pagi, 10 Maret 1966, Soeharto bersama istri dan keenam anaknya berangkat berlibur ke Pantai Anyer. Soeharto bersama Bambang, Tommy dan Titiek menumpang Mercedes Benz Jeep ditemani seorang sopir dan ajudan. Sementara istrinya, Siti Hartinah (Tien), bersama Tutut, Sigit dan Mamiek menumpang Mercedes Benz lain, ditemani oleh seorang sopir. Iring – iringan mobil mereka dikawal satu mobil voorijder dari Polisi Militer. Selama hampir 4 jam perjalanan Jakarta – Anyer, sambil melayangkan pandang melalui kaca jendela Tutut muda berpikir dan membayangkan, seandainya suatu saat dapat dibangun jalan tol dari dan menuju Jakarta, pasti perjalanan itu akan menjadi jauh lebih singkat. Sementara itu di mobil lain, bau minyak kayu putih cap Kapak semerbak mewangi, Soeharto sudah lemas tak berdaya karena mabuk perjalanan, dan si ajudan sudah empat kali membuang kantong plastik berisi ‘dosa – dosa’ Soeharto. Si ajudan pun mulai berpikir untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai ajudan dan berencana untuk membuka usaha sablon kaos. Sedangkan Tommy kecil, terlintas dalam benaknya, “Pasti tidak akan begini parah jika ada obat praktis untuk mencegah mabuk perjalanan dan bisa diperoleh dengan mudah” (Kini Indonesia mengenal obat Antimo – yang diambil dari nama Tommy, yang jika dibalik menjadi Timo, supaya lebih keren ditambah An – menjadi Antimo).

Setibanya di Pantai Anyer, mereka langsung menuju ke cottage tempat biasa mereka menginap, Cottage Semar namanya. Tommy kecil menghambur keluar dari mobil, membuka seluruh pakaiannya dan hendak langsung berenang di pantai, namun dilarang oleh ibunya. Kakak – kakak Tommy terlihat biasa saja, tidak terlalu antusias, bahkan ada yang menggerutu karena rencana kencan malam minggunya dengan artis muda ibukota terancam batal. Soeharto yang sudah tepar dibopoh ke dalam kamar untuk beristirahat. Saat itu tepat waktu makan siang, maka mereka semua kecuali Soeharto dan ajudannya, berjalan kaki menuju sebuah restoran seafood yang letaknya tak jauh dari cottage. Keluarga Soeharto duduk dalam satu meja, sementara dua sopir dan dua personil voorijder di meja lainnya. Waktu itu, seafood belum begitu familiar di Indonesia. Keluarga Soeharto yang memang gemar berwisata kuliner mencoba berbagai menu masakan, antara lain udang bumbu pecel Madiun, cumi – cumi goreng ceplok, lidah paus tabur keju, dan ikan tongkol palawija – jangan dongkol santai aja. Sedangkan para sopir dan personil voorijder hanya memesan menu nasi + ikan tongkol goreng + air putih, mereka merasa segan untuk memesan makanan yang harganya mahal. Selesai makan siang, mereka kembali ke cottage untuk bersantai sejenak. Tak lupa, Tien juga membawakan makan siang untuk Soeharto dan ajudannya.

Saat hari beranjak sore, keluarga Soeharto sudah berada di bibir pantai, asyik bercengkrama sambil menunggu sunset. Soeharto yang sudah sembuh dari mabuk perjalanan pun ada disitu. Tommy yang sejak semula paling bersemangat untuk berlibur kemudian berlari dan menceburkan diri ke air; saking bersemangatnya, Tommy terjatuh dengan kepalanya masuk terlebih dulu ke dalam air. Anggota keluarga yang lain tertawa terbahak melihat adegan itu, termasuk sang kakak, Bambang, yang langsung memuncratkan buah jeruk yang sedang dikunyahnya karena tak sanggup menahan tawa. Sementara itu, jauh di lubuk hati yang paling dalam, Soeharto ingin sekali memancing ikan di laut bersama ajudannya, namun dia khawatir akan membuat istrinya marah. Tien paling tidak suka jika ada yang mengganggu quality time keluarganya, apapun itu; dia akan sangat marah. Dampak paling buruk yang pernah terjadi adalah dipersilahkannya Soeharto tidur malam di pos jaga depan rumah tanpa bantal maupun selimut. Alhasil, Soeharto memerintahkan dua letnan petugas jaga untuk menyelimutinya semalaman dengan tubuh tegap mereka. Oh damn. Singkat kisah, mereka sangat menikmati sore itu. Dan sunset di Anyer nampak indah sekali.

Ketika malam tiba, Soeharto yang masih tak tenang memikirkan situasi sosial politik nasional, duduk termenung di sebuah kursi pantai, di sebelahnya ada meja kecil dengan secangkir kopi susu diatasnya. Sambil menghisap cerutunya dalam – dalam dan menyemburkan asapnya diam – diam, Soeharto berpikir mencoba mencari solusi atas segala krisis dan kekacauan yang terjadi di Indonesia. Tiba – tiba datang si ajudan, Letnan Kolonel Basridin namanya, hendak melaporkan sesuatu – Alhamdulillah yah. Basridin melaporkan bahwa telah terlihat suatu konsentrasi pasukan tak dikenal di sekitaran Harmoni dalam jumlah cukup besar, dan tidak ada satu pun perwira tinggi yang mengaku membawahi pasukan tersebut; baik dari Angkatan Darat, Angkatan Laut maupun Angkatan Udara. Soeharto makin pusing. Dia butuh senam kesegaran jasmani.

Letkol Basridin menyarankan Soeharto selaku Menteri Panglima Angkatan Darat untuk segera mengambil tindakan. Tiba – tiba Soeharto berjalan menuju bibir pantai, duduk bersimpuh dan memanjatkan doa; mulutnya komat – kamit, dari kepalanya keluar asap. Basridin yang bingung dan sedikit ketakutan kemudian mengambil se-ember air dan menyiramkannya ke kepala Soeharto. Plak! Soeharto yang kaget langsung menampar Basridin. Basridin kecewa dan pergi, berlari sambil menangis.

Soeharto tak ambil pusing dengan Basridin, baginya kepentingan nasional jauh lebih diutamakan ketimbang urusan si ajudan banci itu. Berpikir dan berpikir, Soeharto berkesimpulan bahwa dia memang harus segera mengambil tindakan. Di sisi lain, Soeharto juga melihat peluang untuk mengambil alih kekuasaan Presiden Soekarno yang posisinya mulai melemah karena tak lagi mendapat dukungan tentara. Soeharto menyadari, banyak dari kalangan perwira tinggi yang ingin mengambil peluang itu – salah satunya yang telah meng-konsentrasikan pasukannya di Harmoni. Soeharto sebagai Menpangad tentu memiliki kekuasaan dan pasukan lebih banyak untuk menertibkan pasukan lain yang bergerak diluar sepengetahuannya, setelah itu barulah Soeharto bermanuver lebih lanjut untuk mengambil alih kekuasaan.

Soeharto banyak belajar mengenai strategi militer dan diplomasi ketika dia menjalani pendidikan militer di Amerika Serikat. Maka untuk kali ini dia akan menggunakan cara halus, cara diplomasi, mengingat peran Presiden Soekarno yang sangat besar dalam perjuangan kemerdekaan dan basis pendukungnya yang masih sangat banyak. Soeharto akan mendesak Presiden Soekarno untuk memberikan suatu surat perintah kepadanya, yang dapat digunakan sebagai dasar hukum legal dalam mengambil segala tindakan untuk memulihkan keadaan. Dalam kata lain, Soeharto akan mendapatkan wewenang dan legitimasi yang sangat besar untuk melakukan apapun terhadap negara ini. Pintar ya Soeharto.

Sekitar pukul 22.00, Soeharto mulai merumuskan draft surat perintah yang akan dia ajukan kepada Presiden Soekarno. Ini adalah negotiable draft, yang isinya masih dapat dinegosiasikan dengan Presiden Soekarno. Pertama, Soeharto akan memilih judul surat perintah, yang mana ini penting untuk pencatatan sejarah di masa depan, penyebutan surat perintah itu haruslah catchy, mudah diingat dan dapat disingkat. Satu jam lamanya Soeharto mencari judul surat perintah yang pas, hingga akhirnya secara tak sengaja dia melihat sebuah tulisan “Semar” di meja kecil di sebelah kursi pantai-nya (Saya ingatkan lagi, cottage tempat keluarga Soeharto menginap bernama Cottage Semar). “Semar” artinya Sebelas Maret. Lalu Soeharto dengan cemerlang menambahkan kata “Super” didepannya, artinya Surat Perintah. Jadilah “Supersemar”.

Menggunakan kertas dan pena yang dia curi dari meja kasir restoran seafood, Soeharto mulai menuliskan poin – poin penting yang akan dimasukkan dalam Supersemar, antara lain: Soeharto mendapat kewenangan penuh untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk memulihkan keadaan serta menstabilkan keamanan ketertiban; Soeharto menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Presiden Soekarno serta memastikan ajaran – ajaran Soekarno akan tetap dijaga dan dipelihara, dan; Soeharto akan berkoordinasi dengan pimpinan angkatan perang lainnya.

Selesai merumuskan draft Supersemar, Soeharto merasa lega, bahkan menemukan kembali semangatnya dan tak sabar menanti hari esok tiba. Sebelum pergi tidur, Soeharto mengambil gitar akustik milik Bambang dan memainkan beberapa lagu favoritnya. Saat sedang memetik gitar, secara tak sengaja Soeharto menemukan suatu jalinan nada dan irama yang pas. Lalu Soeharto pun mulai menulis liriknya, menggunakan kertas yang sama tempat dia menuliskan poin – poin Supersemar, namun di sisi sebaliknya.

Malam ini, kembali sadari koe sendiri.
Gelap ini, kembali sadari kaoe tlah pergi.
Malam ini, kata hati haroes terpenoehi.
Gelap ini, kata hati ingin kaoe kembali.

Hemboes dinginja angin laoetan,
tak hilang ditelan bergelas-gelas arak,
jang koetenggakkan…

Malam ini, koebernjanji lepas isi hati.
Gelap ini, koeoetjap berdjoeta kata maki.
Malam ini, bersama boelan akoe menari.
Gelap ini, di tepi pantai akoe menangis.

Tanpa dirimoe dekat dimatakoe,
akoe bagai ikan tanpa air.
Tanpa dirimoe ada disisikoe,
akoe bagai hioe tanpa taring.
Tanpa dirimoe dekap dipeloekkoe,
akoe bagai pantai tanpa laoetan.
Kembalilah kasih…ooo
Kembalilah kasih

Soeharto memberi judul lagu itu Anyer 10 Maret, lengkap dengan catatan chord gitarnya. Lalu dia lipat kertas itu dan memasukkannya kedalam saku bajunya. Menjelang dini hari 11 Maret 1966 pukul 01.00, Soeharto yang sudah lelah dan matanya mulai memerah pun pergi tidur.

Berpuluh tahun kemudian, Indonesia yang telah memasuki era Orde Baru mengenal sebuah grup band bernama Slank. Pada tahun 1993, Slank merilis album PISS, produksi label rekaman Virgo Ramayana Records. Album itu meledak di pasaran dan Slank semakin menancapkan kukunya di kancah musik Indonesia serta mulai memiliki basis fans yang biasa disebut Slankers. Dalam album PISS itu, ada satu lagu yang berjudul Anyer 10 Maret, dengan lirik dan chord sama persis dengan lagu ciptaan Soeharto. Lagu itu merupakan salah satu lagu favorit Slankers, bahkan para pecinta musik yang non-Slankers pun bisa dengan mudah menyukai lagu tersebut. Sampai kini publik tak ada yang tahu, bagaimana ceritanya sampai lirik dan chord lagu Anyer 10 Maret itu bisa sampai ke tangan para personil Slank, bahkan dirilis dalam sebuah album!

Misteri Supersemar yang kini muncul dalam banyak versi pun mulai terkuak, karena dari pihak Slank, entah para personilnya, atau manajemennya setidaknya telah pernah (atau masih) memegang draft asli poin – poin Supersemar yang ditulis tangan sendiri oleh Soeharto pada tanggal 10 Maret 1966.

Sekian.

*Cerita ini hanyalah fiktif belaka, sumpah. Kesamaan nama tokoh dan jalan cerita hanya didapat dari mesin pencari Google dan bertujuan untuk kepentingan hiburan semata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s