Di Sebuah Gerai

Malam tadi, seorang gadis sedang duduk di sebuah gerai Mister Burger yang terletak di kawasan Seturan, Yogyakarta. Kebetulan saya pun berada di tempat itu, berjarak dua meja jauhnya. Gadis itu mengenakan cardigan hitam yang menutupi kaos yukensi hitam-nya, memakai legging bercorak dengan warna dominan merah, plus sandal jepit merah muda. Perawakannya langsing, kulitnya putih, rambutnya panjang dan berwarna hitam, wajahnya nampak seperti peranakan campuran Tionghoa. Gadis itu sungguh pandai berpenampilan dan membuat para pria setidaknya menoleh untuk memandangnya sekejap, padahal secara fisik (menurut saya) gadis itu tidak terlalu menarik.

Sambil menunggu pesanannya datang, dia asyik memainkan ponselnya, sesekali terlihat mencoba menghubungi seseorang namun sepertinya tak mendapat jawaban. Sedangkan saya, juga sambil menunggu pesanan datang, merokok dan sesekali memandang ke arahnya; apalagi saat dia mengangkat kedua tangannya untuk mengikat rambut panjangnya keatas. Di sekitar kami, juga ada beberapa orang yang sedang menunggu pesanannya datang. Namun yang menarik, ada pula seorang anak kecil yang menggenggam sebuah kicrikan di tangannya seperti pengamen, bermain-main dan wara-wiri di sekitar kami; dan dia tidak sedang mengamen. Para pegawai gerai pun tidak berusaha mengusir atau memperingatkannya. “Mungkin anak ini sudah biasa bermain-main disini” pikirku.

Tak berapa lama, makanan yang dipesan oleh gadis itu pun datang, sebuah burger untuk dibawa pulang. Lalu tiba-tiba dia berbicara kepada bocah pengamen yang kini sudah duduk tenang, memberitahu bahwa burgernya sudah jadi. Namun seorang pegawai gerai kemudian mengatakan bahwa burger pesanan si bocah belum jadi. Gadis itu segera beranjak ke kasir untuk membayar; pamit ke bocah pengamen dan beranjak pergi bersama seorang teman yang ternyata sedari tadi menunggu di atas sepeda motor.

Saya melongo melihat adegan yang hanya berlangsung sekitar satu menit itu. Seketika itu pula, kecantikan gadis itu naik ke level tertinggi. Very excellent behavior.

Tak sampai lima menit setelah gadis itu pergi, burger pesanan si bocah pun datang. Kini hampir semua orang di gerai itu melihat ke arah bocah pengamen tersebut. Seorang ibu-ibu pegawai gerai memanggilnya, “Slamet…” dan memberikan burger itu sambil sedikit berbincang dengan Slamet kecil yang girang mendapat burger gratis.

Dua puluh menit kemudian, saya sudah berada di kost-kostan; membayangkan seandainya semua wanita di dunia memiliki ‘cantik’ yang seperti itu.

Andai saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s