It’s Gonna Be A Very Rainy Christmas For Us

Seorang sahabat pernah berkata pada saya bahwa Natal tahun ini adalah Natal terakhir, karena tahun depan dunia telah kiamat. Tentu saja pernyataan itu berada dalam konteks guyon sambil cekakakan. Dan menurut saya pun, itu adalah guyonan yang impossible, meskipun impossible is nothing.

Bagi sebagian orang, tahun ini adalah tahun yang sukses dan menggembirakan. Bagi sebagian lainnya, tahun ini adalah tahun yang berat dan menyedihkan. Sebenarnya itu tergantung dari pola pikir masing-masing orang, apakah akan memandang tahun yang hampir berlalu ini melalui cara pandang positif, atau sebaliknya. Ada satu hal yang seringkali kita lupakan, bahwa setiap kali kita bersedih maka kita akan semakin terpacu mengejar kebahagiaan, setiap kali kita terjatuh maka kita akan berusaha untuk kembali bangkit lebih kuat, dan setiap kali kita kehilangan maka kita pasti mendapatkan, apapun itu.

Musim telah berganti, lebih tepatnya berganti-ganti tak menentu. Setelah disuguhkan kemarau panjang yang sangat hot dan pakaian yang cepat bau karena keringat, akhirnya pada triwulan terakhir 2011 musim hujan pun datang, berdampak sistemik langsung pada cucian yang butuh waktu lebih lama untuk kering. Sakit penyakit ala pergantian musim pun merajalela, umumnya flu, batuk dan gigi berlubang. Kemudian menyerang sisi otak kiri sebelah kanan yang membuat tulisan ini semakin kacau. Dan Desember ini, hampir setiap hari hujan turun, tan-pa per-mi-si.

Hari Natal akan tiba kurang dari waktu seminggu lagi, berbagai persiapan pun telah dilakukan. Meskipun begitu, kini semarak Natal terasa sangat berbeda jika dibandingkan dengan semarak Natal di masa kecil. Hal ini wajar adanya, karena seseorang yang telah memasuki usia 20-an tak lagi memiliki hati yang suci dan telah terkontaminasi oleh racun-racun serta tekanan kehidupan khas orang dewasa. Ini adalah kenyataan pahit yang harus kita tanggung dan sungguh-sungguh damnmotherfuckerasshole.

Semua orang tentu boleh merayakan dan merasakan semarak Natal, karena Natal bukan hanya milik orang Kristiani. Natal milik siapa saja; anak-anak, pelajar, mahasiswa, PNS, wartawan, atlet, karyawan swasta, seniman, artis sinetron, penjual gorengan, penjual dildo, penjahat, koruptor, pelacur, politikus, anggota DPR, dan presiden; dari yang Muslim sampai yang Buddha, dari yang Hindu sampai yang Konghucu. Natal milik kita semua.

Natal selalu membawa harapan. Bagi yang masih percaya pada harapan, ketahuilah bahwa harapan tanpa usaha adalah nothing-omong kosong-tidak akan mungkin terjadi. Ingatlah pepatah lama dari David Beckham, nothing is impossible!

Dan yang terbaik dari semuanya ini, saya hanya berharap agar tahun depan bisa merayakan Natal bersamanya. Oh, bukankah ini sebuah harapan? Bukan, ini adalah doa, jauh lebih kuat daripada harapan.

It’s gonna be a very rainy Christmas for us,
but it’s not about the rain,
it’s about us;
you
and
me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s