Tiada

Aku adalah tiada,
semenjak kau meniupkan kasih di depan wajahku,
sampai kau berlalu dari mataku, meninggalkan senyumku yang membiru

Aku adalah tiada,
meski tidurku dapat menerbangkan mimpi-mimpi, jauh sekali, tak terbagi

Aku tak pernah mau ada disini,
di tempat kau tak bisa melihatku,
di sudut kota sunyi, hanya ditemani sepotong kertas bertuliskan, “Aku cinta padamu”

Aku memang tiada,
kudengar senandungku sendiri, seolah-olah senandung itu ada,
seolah-olah aku ada, seolah-olah kau ada

Aku adalah daun-daun,
aku adalah udara busuk gorong-gorong,
aku adalah tanah basah yang kau lewati pagi tadi,
aku adalah es yang mencair,
aku adalah awan putih terkatung-katung di angkasa
aku adalah tembakau kering siap bakar,
aku adalah sawah hijau belakang rumah,
aku adalah bapakku,
aku adalah ibuku,
aku adalah udara pengap dalam kamarmu,
aku adalah detak jarum jam yang selalu mengganggu,
aku adalah kera,
aku adalah lautan dalam,
aku adalah musim hujan,
aku adalah rambutku yang memutih,
aku adalah kebahagiaanku sendiri,

Aku tetaplah tiada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s