Kita (Manusia)

Kita (manusia) hanyalah makhluk sebesar upil di atas planet bernama Bumi yang luar biasa luasnya dan telah diakui seluruh dunia, yang ternyata kebetulan juga hanya sekecil upil di Galaksi Bima Sakti yang bujubuset lebih luar biasa luasnya. Tetapi saudara, ingatlah, kita punya kehidupan yang lucu dan asyik menggemaskan.

Saya pernah membayangkan menjadi Tuhan, setiap hari harus mendengar semacam alarm yang memperingatkan adanya kejadian aneh di Bumi, dan mau tak mau selalu tergoda untuk melihatnya. Mulai dari kejauhan tampak lima benua dari atas bumi, semakin mendekat tampak warna kehijau-hijauan, di beberapa tempat agak berwarna kecoklatan. Semakin dekat lagi, mulai tampak pemukiman kita (manusia), ada yang berbentuk gedung-gedung bertingkat, ada yang berupa rumah-rumah biasa, ada pula yang hanya berupa kayu-kayu dan seng-seng seadanya. Tapi itu tak menarik, lihatlah yang jauh lebih menarik, lebih dekat.

Ada manusia.

Ada manusia yang hidupnya penuh semangat, selalu memiliki motivasi dan mencari tantangan. Bekerja di sebuah perusahaan swasta, hobi travelling, berpenampilan casual dan menarik, serta terlihat dewasa. Namun sayang, lawan jenis segan mendekatinya karena ia semacam too good to be true. Hingga kini, ia masih melajang.

Ada manusia yang hampir seumur hidupnya diliputi perasaan mellow, rapuh, mudah sakit hati, apalagi kalau berurusan dengan cinta, sedikit-sedikit ingin bunuh diri, sedikit-sedikit ingin minum racun. Ah, macam Romeo dan Juliet saja…

Ada manusia yang berpenampilan garang, dengan nada suara yang sengaja dibuat sangar, gaya berjalan dibuat segagah mungkin, tato macan di lengan kirinya, selalu memakai pakaian hitam-hitam ala gangster-gangster ibukota dan sengaja jarang mandi. Namun setiap kali pulang ke rumah, hatinya selalu diliputi kesedihan, karena sesungguhnya ia adalah manusia yang kesepian dan butuh teman hidup, tak peduli jenis kelaminnya apa.

Ada manusia yang 20 dari 24 jam harinya dihabiskan untuk berinternet-ria; browsing, chatting, upload, download ini itu, facebook-an, twitter-an, atau sekedar bermain game online. Google.com adalah kitab sucinya. Sampai-sampai tanpa pernah ia sadari, otaknya telah terkena radiasi akut dan wajahnya semakin mirip monitor komputer.

Ada juga manusia yang sedang menempuh studi di sebuah universitas, namun sejak awal tak pernah yakin akan pilihannya itu. Kini, setelah beberapa tahun menjalani masa studi, ia merasa gamang dan tak tahu tujuan selanjutnya setelah lulus nanti, bahkan ia sengaja mengulur-ulur waktu untuk lulus. Hmm…mungkin ia sudah terlanjur nyaman dengan hidup sebagai parasit orang tuanya, atau mungkin juga ia ingin mencari jodoh terlebih dahulu.

Ada manusia yang sama sekali tidak cakap mengurus hidupnya sendiri; pemalas, pemboros, tipu sana tipu sini, utang sana utang sini dan tak jarang, mencuri pun dihalalkannya. Ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan yang ia mau, sifat ini bisa menjadi baik sekaligus buruk bagi dirinya. Satu-satunya keahliannya adalah berbicara; lisan maupun tulisan; dan keahlian ini ia manfaatkan betul untuk tipu sana tipu sini itu tadi. Kembalilah ke jalan yang benar hai manusia.

Ada pula manusia yang masuk kategori maniak seks. Otaknya hanya berisi hal-hal seputar seks, seks dan seks. Ia menyimpan ratusan film porno di hardisk komputernya dan juga di memori ponselnya. Ia harus melakukan aktivitas seksual minimal satu kali setiap harinya, baik dengan pasangannya ataupun bermasturbasi sambil membayangkan film-film porno koleksinya. Sarkem murah bos…

Ada lagi manusia yang biasa-biasa saja, berasal dari keluarga sederhana, cukup religius dan berpenampilan apa adanya. Ia tak pernah berbuat macam-macam, hidupnya pun biasa-biasa saja, lurus-lurus saja, hampir tak pernah mengalami sesuatu yang luar biasa. Meskipun terlihat membosankan, namun ia selalu mensyukuri apa yang ia punya. Maka saya (yang sebagai Tuhan ini) selalu mencukupi yang ia butuhkan.

Di belahan Bumi yang lain, ada manusia yang tidur beratapkan seng yang bocor dikala hujan, beralaskan kasur kapuk yang sudah tipis, hidup di lingkungan kumuh penuh sampah, dan sesekali bergetar-getar karena ada kereta api lewat di depan rumahnya. Setiap hari hatinya selalu was-was, khawatir kalau-kalau Satpol PP datang menggusur tanpa peringatan, padahal ia masih harus memikirkan bagaimana ketiga anaknya bisa makan tanpa harus membagi satu mie instan untuk bertiga.

Ada manusia yang baru saja lulus dan menyandang gelar sarjana, IPK-nya lumayan baik. Kini sedang giat-giatnya menyebar lamaran pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar yang diminatinya, dan karena itu semakin rajin pula ia beribadah. Ia memiliki kekasih yang sudah bekerja terlebih dahulu dan sangat mencintainya. Tetapi sayangnya ia tak tahu, kekasihnya telah menjalin hubungan dengan manusia lain. Ia sedang dikhianati.

Ada juga manusia yang suka sekali membaca buku, terlebih lagi buku-buku dengan kategori “berat” seperti buku-buku filsafat, ideologi, dan sastra. Seringnya ia melahap buku-buku kategori demikian membuat pandangan hidupnya berbeda dari manusia kebanyakan, tak jarang ia dianggap aneh dan banyak manusia menganggap otaknya sudah mlengse. Sikapnya dalam menghadapi suatu permasalahan memang cenderung tidak realistis dan skeptis, bahkan terkesan sok tahu, namun diatas semuanya itu ia tetaplah manusia “berisi” yang patut diberi acungan jempol.

Ada pula manusia yang siap mati untuk agamanya, lazim disebut fundamentalis atau ekstremis. Ia berpandangan bahwa agamanya-lah yang paling benar, paling suci dan penganutnya sudah dapat dipastikan masuk surga. Sedikit banyak hal ini dipengaruhi oleh ajaran para pemuka agama yang cenderung menyesatkan, yang dilatarbelakangi motivasi untuk mendapatkan penganut agama sebanyak-banyaknya. Tetapi dapat juga disebabkan cara membaca kitab suci yang kurang benar, misalnya sambil tidur-tiduran, sambil mengantuk, sambil makan pecel lele, atau hanya membaca bagian yang seru-seru saja dan melewatkan beberapa halaman. Ah, kamso…

Ada manusia yang hidupnya sangat nyaman dengan kemewahan fasilitas dari orang tuanya; tempat tinggal ber-AC, ponsel termahal, laptop tercanggih, mobil sedan terbaru, dan uang bulanan mencapai jutaan. Namun repot sekali kalau ia harus hidup sedikit jauh dari kemewahan itu sebentar saja, maka ia tak pernah merasakan camping di alam terbuka, takut digigit nyamuk, tak pernah merasakan serunya naik motor, apalagi sepeda, dan tak pernah merasakan nikmatnya satu malam sunyi di atas pasir pantai tanpa AC, ponsel, laptop dan kasur empuk.

Ada lagi manusia yang mencampakkan pasangannya karena ia merasa pasangannya tak bisa menyamainya, setidaknya untuk saat ini; dari segi pekerjaan, penghasilan (materi), maupun kualitas fisik, maka tak pantas untuk terus bersamanya. Ternyata ia lupa kalau pasangannya itulah yang dulu dengan setia membantunya hingga mendapatkan apa yang ia punya saat ini. Ia lupa. Ia melupakannya.

Ada manusia yang sangat peduli dengan alam, apalagi setelah keadaan Bumi makin panas dan tercemar. Ia menentang penggunaan plastik, sebisa mungkin akan menghindari menggunakan materi plastik. Ia juga gencar menggalakkan penanaman pohon, rumahnya pun rimbun dan terasa sejuk. Penghematan air dan listrik ia lakukan, tapi bukan berarti ia jarang mandi dan nonton televisi. Alat transportasi sehari-harinya adalah sepeda, selain anti-polusi, juga membuat tubuh sehat. Ia aktif dalam kegiatan-kegiatan bertema lingkungan, maka ia pun sering menerima tekanan dan bahkan ancaman dari manusia-manusia yang proyek anti-lingkungannya ia tentang. Ia, manusia luar biasa.

Ada manusia yang menghabiskan berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan hidupnya di atas lautan, padahal manusia bukan makhluk air. Di atas kapal ia makan, tidur, buang air dan bekerja. Sekian lama ia meninggalkan kerinduan di tengah keluarganya, tetapi ia hampir selalu membawa kebahagiaan saat datang dari lautan pulang ke rumah, rumah sesungguhnya.

Kita (manusia) hanyalah makhluk sebesar upil di atas planet bernama Bumi, dan jika kehidupan kita menjadi semakin brengsek, tak lagi lucu dan asyik menggemaskan, hadapilah, we already make it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s