Through Her Eyes

Mengalun-alun suaranya parau
mengukir dada yang sesak terluka pada sebuah getir yang merana
Pergilah dia ke negeri di atas angin
melukis gelisahnya berwarna-warni
dalam air mata yang akhirnya dibaginya
Dimana kausembunyikan lukamu yang membara?

Bunga seroja dihampirinya
diambilnya ke dalam belahan jiwa yang kosong
Sama-sama kosong

Sementara derai tawa mengurungnya jauh-jauh dari cahaya
masih sangguplah dia dengan sepatu kencana merahnya
berputar-putar menggoda asmaranya yang jauh diujung asa
Rambutnya mulai tergerai menunggu dibelai
seperti bukit melati yang malu-malu menunggu surya kembali

Menembus malam,
tuangkan saja gelisahnya, hingga tak tersisa
ikuti saja iramanya
hingga tak terasa

kutemani…

(untuknya yang ketiga)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s