Pulang Malu, Tak Pulang Rindu

Inilah malam,
dimana gelapnya tanpa tepi
dan matanya tajam menusuk-nusuk,
sampai ujung-ujung bambu berderit-derit
menandakan ini malam masih dingin…

23 September 2008 pukul 15.00, perjalanan panjang itu dimulai. Sungguh, saya berangkat dengan berat hati, karena saya tau, dua puluh satu hari ke depan akan penuh penderitaan dan air mata.

Hampir satu hari satu malam saya melakukan perjalanan pulang ke Bandar Lampung, dengan menumpang bus malam eksekutif Putra Remaja, duduk di barisan depan nomor tempat duduk 2.
Sepanjang perjalanan, kami para penumpang disajikan lagu-lagu dari ST-12 dengan hits-nya Cari Pacar Lagi (asik juga lho coy lagunya, Melayu Melayu gimana gitu ihui)

24 September siang saya tiba di rumah, disambut dengan suasana rumah yang tak banyak berubah.

Belum lagi mengembalikan kondisi tubuh yang masih bus-lag, saya sudah di-booking bapak agar malamnya ditemani mengantarkan Mbah Darto ke rumah bulik saya (yang notabene adalah rumah Mbah Darto sendiri) di kota Metro, 1,5 jam perjalanan dari Bandar Lampung, agar Mbah Darto ada yang mengurusi. Mbah Darto sudah sangat renta dan selama kurang lebih 3 tahun ini dirawat di rumah saya.

25 September, rencana awalnya sih untuk istirahat & santai2, supaya besoknya fit. Tapi kucing tinggallah meong, rencana tinggallah rencana…di hari yang mepet itu, di waktu yang kampret itu, saya harus mempersiapkan macam-macam tetek bengek-nya untuk berangkat ke Jawa esok harinya. Ya ngepak barang lah, ya nyuci mobil lah, ya mindahin ikan-ikan gurame di kolam depan lah…dan malam itu saya pun terkapar, padahal menurut instruksi presiden, besoknya kami harus berangkat paling lambat jam 7 pagi.

26 September, biasa lah orang Indonesia, akhirnya kami sekeluarga, terdiri dari bapak, ibu dan adik saya berangkat pukul 07.30 dengan diiringi doa paling tidak dari kami sendiri. Sekitar pukul 10 pagi, kami sampai di pelabuhan Bakauheni, lalu menyeberang ke pelabuhan Merak, Banten selama kurang lebih 2 jam. Gila, panas abiss coy di kapal!

Kami menuju Jakarta via tol, perjalanan sekitar 2 jam-an deh. Nah sampe di Jakarta neh bapak mulai panik takut tersesat, padahal sebenernya petunjuk jalan udah jelas. Dan waktu itu ditambah jalanan macet plus hujan deras, alhasil kami pun bertukar posisi di dalam mobil saat hujan deras itu dan saya menjadi driver-nya (halah, bahasanya…sok idih). Singkat kata singkat cerita, kami pun keluar Jakarta dan menuju Cikampek via tol. Jalan tol sudah mulai ramai dipenuhi mobil2 pemudik…ah mana pada ngebut2 lagi, mana saya juga kena limit kecepatan dari bapak lagi…

”Ga usah nyampe 100, 80 aja”

krik…krik…krikkk…

“Awas, jaga jarak”

“Awas, truk depan mo nyalip juga”

Kami juga sempat berhenti di salah satu rest area tol Jakarta-Cikampek. Gila, ini rest area apa tempat rekreasi…lama2 bakal ada mall juga neh disini, pikirku. Menjelang buka puasa, kami sampai di Cikampek, langsung mengambil arah menuju Cirebon. Jalanan rame banget, didominasi para pemudik kendaraan roda dua, yang menurut hemat saya, pada seenaknya sendiri, ngeribetin, mentang2 cuma naek motor. Dalam hati saya ingin teriak keluar jendela mobil, “taek kalian semua yang pada naek motor!!” Tapi sebaliknya, bapak saya berkata beliau justru semakin bersemangat melihat mereka yang rela bersusah payah naik motor jauh-jauh untuk pulang ke kampung halaman.

Mendekati kota Cirebon, saya sempat melihat seorang pria berpakaian lusuh, kira-kira berusia 30-an, menenteng tas hitam di bahunya dan menggenggam beberapa barang di tangan kanannya. Dia sedang mengejar bus antar-kota antar-propinsi yang baru saja berhenti di pinggir jalan, dia terlihat seperti seorang penjual barang yang biasa masuk ke dalam bus-bus antar-kota untuk menawarkan barang dagangannya…
bagi saya, momen itu cukup menyentuh..membuat saya bertanya2 dalam hati, “apa yang ada di pikirannya? apa yang sedang menjadi beban hidupnya? dengan cara apa dia bisa bahagia?” saya ingin jadi Tuhan saat itu!

Sekitar pukul 11 malam, kami sampai di kota Cirebon. Sesuai rencana semula, kami langsung menuju hotel yang sudah di-booking sebelumnya untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan esok harinya. Hotel Cirebon Indah namanya, hotel kutukupret dengan pelayanan yang sompret ngepret. Padahal sejatinya, kami hendak memesan kamar di Hotel Srikandi, hotel yang biasa menjadi tempat singgah bapak setiap kali bawa mobil ke Jawa. Namun siapa mau dimaki, apa mau dikata, Hotel Srikandi sudah full. Sebelum tidur, kusempatkan menelepon sang kekasih di Jogja, Veronika namanya…

27 September, pagi-pagi sekali kami sudah bersiap hendak melanjutkan perjalanan, langsung menuju Jogja. Pukul 8 pagi kami berangkat, dengan energi yang sudah kembali terisi, dengan semangat untuk segera sampai dan menunaikan tugas negara itu dengan sebaik2nya…[haaaaaaallllaaahhh kentut!]. Masih di dalam kota Cirebon, sepertinya kami berangkat berbarengan dengan para pemudik roda dua (aarrggghhh!), dan di dalam kota itu pula mobil kami sempat berada di belakang sebuah truk yang bak belakangnya bertuliskan “PULANG MALU, TAK PULANG RINDU.” Sebuah frasa kata yang bagi saya cukup menyentuh dan pas sekali dengan tema mudik Lebaran.

Kami sarapan sejenak di daerah mana tu, saya lupa [maaf ye], sarapan sate kambing…hehehe pokoknya masih di jalur Pantura lah..

Lalu kami lanjut lagi, jalur Pantura sudah mulai macet cape duueehh, dan setelah sempat berdiskusi, kami sepakat memotong lewat jalur selatan via Brebes menuju Purwokerto. Di daerah Purwokerto yang jalannya meliuk-liuk ini pula, saya sempat menyenggol satu motor, untungnya dia gak sampai jatoh, dasar bego sih dia!! sembarangan nyalip, lha wong sini juga lagi nyalip! jancuk!
Kami sempat beberapa kali singgah di pom bensin hanya untuk refresh tubuh dan menyetor di toilet pom bensin.

Lewat tengah hari kami sampai di daerah Kab.Banyumas, berhenti sejenak di pinggir sawah untuk menyantap bakso plus es cawet (baca: es dawet –Red) diiringi sepoi-sepoi nya angin kering musim kemarau..aaah…nikmatnya dunia…ajiiibbb

Perjalanan lanjut lagi dengan suasana yang mulai garing, mengingat kondisi fisik yang mulai ngehek. Malam hari kami sampai di Purworejo dan makan malam di salah satu rumah makan disana, RM Anggraena namanya, walaupun masakannya ga enak2 amat, tapi jadi lumayan enak, soalnya laper pol coy. Sekitar pukul 10 malam kami sampai di kota Jogja, Jogja, kami datang. Masuk lewat ringroad barat, langsung menuju kost-kostan saya di daerah mana hayoo? udah pada tau kaaann,ya kan ya donk apa siihh ah…

Sebelum mapan di kasur, kusempatkan lagi menelepon Vika, tak sabar ingin bertemu esok harinya.

28 September, di hari Minggu yang cerah itu, saya mendapat akses keluar kost via service motor saya yang sudah semelekete itu. Sembari menunggu Vika pulang dari gereja bersama teman kostnya, saya mencari bengkel motor yang bersedia men-service motor saya. Singkat cerita, saya akhirnya bertemu Vika dan memberikannya sedikit oleh-oleh boneka gajah dari Lampung. Bahagianya melihatnya setelah beberapa hari tak bertemu…
Setelah mengobrol sejenak mia miu mia miu, siang itu pula saya langsung pulang kembali ke kost. Eh, cari karpet dulu dink…

Sore harinya, kami sekeluarga bertolak ke Magelang, menuju rumah bulik saya yang lain lagi untuk mengunjungi rumah barunya, sekaligus menginap satu malam disana.
Kami bertemu dengan anaknya yang gendut lucu itu, namanya Keisha.

Malamnya kami bersilaturahmi ke rumah mertua bulik saya, masih di daerah Magelang sana, dekat tempat wisata Ketep Pass…
Namun sungguh, semalaman itu hingga esok harinya saya berada di tepi jurang kehancuran hati.

29 September pagi, setelah sarapan, bapak langsung mengajak saya mencari tukang service radiator karena ditengarai radiator mobil bocor oleh sebab air radiator berkurang cukup banyak..yuuuhuuuu..
Cengok juga nunggu radiator nya diservice, apalagi ditambah pikiran ruwet mbundet-mbundet kayak kabel2 di bawah setir. Siang menjelang sore kami kembali ke Jogja, saya langsung bergerak cepat untuk menyelesaikan masalah yang menggerogoti pikiran, dan air mata pun tertumpah.

Sepulang dari gereja sore bersama Vika, saya mendapat SMS dari Dori, adik saya, untuk membeli kipas angin baru, karena kamar kost saya puuaannasss minta ampyun…
Saya dan Vika segera menuju Carrefour di depan Hotel Jayakarta untuk membeli kipas angin. Setelah bujuk rayu dilemparkan, gayung pun bersambut, Vika bersedia untuk ikut sebentar ke kost saya, bertemu dan berkenalan dengan ortu dan adik-adik saya…ihihihi…

Malam itu, Vika juga ngasi tulisan2nya selama saya tinggalkan hilir mudik antar kota antar propinsi..dan malam itu saya tutup dengan hati lega, penuh haru dan banyak hikmah yang bias dipetik (gitar kalee dipetik)…

30 September, ini adalah hari kami berangkat ke Baturetno, Wonogiri, rumah mbah saya, ortu dari bapak. Kami berangkat pagi sekitar pukul 10, sarapan dulu di Jalan Wonosari [soto lagi..soto lagi..] sambil menunggu bulik saya dan keluarganya dari Magelang yang juga hendak sarapan di tempat itu.

Hampir 2 jam kami tempuh perjalanan Jogja-Baturetno, sempat pula berhenti mengisi air radiator yang lagi-lagi berkurang (gak beres tuh tukang service radiator di Magelang, sompret)…

Seperti biasa, sebelum masuk jalan gunung berkelok-kelok untuk menuju rumah Mbah Kimin, kami mampir dulu di Baturetno kota untuk makan bakso Pak Yadi yang sudah terkenal reputasinya seantero terminal Baturetno hohhohoho…

Satu jam kami tempuh dari depan jalan masuk sampai ke rumah Mbah Kimin, gila gak tuh, jalan liyat-liyut belak-belok, cuma satu jalan mobil, di sebelah sisi mobil ada jurang, permukaan jalan jedak-jeduk, isinya cuma debu tok…

Untuk bener2 sampe di rumah Mbah Kimin, masih harus jalan kaki sekitar 1 km naik gunung plus nyebrang kali, mobil diparkir di bawah, di pelataran rumah tetangga satu desa…
Sampai di rumah Mbah Kimin, kami langsung beristirahat siang nyantai2 leyeh2 leha2 melepas penatnya perjalanan, menikmati keringnya angin gunung di hari yang terik itu.

Malam takbiran kami lewati bersama para tetangga Mbah Kimin yang datang berkunjung dan mengobrol ngalor ngidul asoy geboy…
Ngomong2 hari itu juga peringatan Gestapu, iiihhh apa coba…

1 Oktober, Hari Kesaktian Pancasila, iiihhh apa siiihhh, kan hari raya Idul Fitri…Pagi-pagi, saya dan Dori naek ke bukit di belakang rumah simbah n poto2 pemandangan…

Setelah pada sholat Ied, ada acara halal bihalal di balai desa (bisa dibilang begitu lah), saya pengen ikutan liat. Selesai mandi dan berpakaian,sambil menunggu orang2 pada sibuk siap2, saya maen balon2an dari sabun sama Keisha gendut, penggemar berat susu…luthunaaa…
Sebelum berangkat ke balai desa, kami acara sungkem2an…bapak, ibu, bulik, simbah kakung n simbah putri pake nangis2an segala…

Di balai desa, panas bgt, ngantuk juga nunggu sambutan2 mia miu plus siraman rohani dari ustad setempat, pake bahasa Jawa khas sana dengan logat yang kejawatimuran gitu deeeehhh.
Abis ntu, ini dia ne acara puncak halal bihalal yang ditunggu2, salam-salaman! baris 7 sab trus saling salam-salaman muter tiap baris sampe abis…hehehe lucu juga, baru sekali ngalamin kayak gitu cuy.

Trus dilanjut berkunjung ke rumah beberapa tetangga, silaturahmi lalu pulang…
para tetangga silih berganti saling bersemi datang bersilaturahmi ke rumah simbah, sampe sore.

2 Oktober, suasana udah biasa lagi, suasana Idul Fitri hari kemarennya sama sekali ga ada sisa.
Hari itu bulik dan keluarga memutuskan pulang duluan ke Magelang. Dan karena kami mulai bosen, kami memutuskan pergi ziarah ke Gua Maria Sendang Ratu Kenya di Giritontro, ga jauh2 amat, cuma 1,5 jam dari rumah simbah, tapi si Ruben, adik saya yang kedua, ga pengen ikut…batewey bapak juga pengen nyari tukang service radiator di Baturetno kota, soalnya air radiator masih aja berkurang terus.

Kami, dua rombongan mobil, berangkat bersama. Sebelum berangkat, ternyata ban mobil bulik bocor, ah susah banget euy ganti ban mobilnya bulik…
Maklum mobil baru, Om Yudi, suami bulik, juga ga ngerti2 amat soal mobilnya…
Belum juga keluar dari daerah jalan gunung, gantian ban mobil bapak yang bocor, malah lebih parah, sobek bek bek sampe anginnya keluar bunyi cesssssssssssssssss….
kampret…ganti ban lagi dah, serasa jadi tukang tambal ban…

Lalu rombongan kami dan rombongan bulik berpisah di depan jalan masuk ke Sendang Ratu Kenya.

Setelah ziarah n poto2 disono, mampir sebentar di tambal ban, nambal ban yang bocor n dipasang lagi…dasar nasib ban serep, selamanya bakal jadi ban serep.
Lalu kami pun ke Baturetno kota, ibu dan Dori belanja di pasar, saya dan bapak nungguin mobil diutek2 radiatornya…
Siang itu, karena di Baturetno kota ada sinyal, bapak dapet esemes dari bulik saya di Lampung, bahwa Mbah Darto sakit, badannya panas…menurut bapak itu biasa, apalagi kalo Mbah Darto lagi jengkel…biasssaaa, Mbah Darto kan udah tua, udah mulai manja n suka minta yang aneh2…

Malam harinya, Mbah Kimin sempat bercerita saat zaman Jepang dulu…

3 Oktober, pagi-pagi udah terjadi sedikit gonjang-ganjing, sesuatu yang diluar kebiasaan…ternyata, si Ruben sakit asmanya kumat.
Wah ya sudah, terpaksa harus ke kota lagi neh, nyari dokter…tapi Ruben ga mau ikut..lha ya sudah, saya n bapak yang pergi, sekalian ke tukang service radiator lagi, karena air radiator berkurang lageeeeeeeeeeee.
Setelah ketemu dokter & minta obat buat Ruben, kami nyervis radiator lagi…beberapa jam kemudian,

“Sampun niki pak, dijamin 100% mboten bocor melih” (sudah ini pak, dijamin 100% gak bocor lagi) kata bapak2 tukang service radiator

“Karepmu lah pak.” (terserah lu deh pak…) kataku dalam hati

Pulang, sampai di parkiran rumah tetangga simbah, ban mobil kembali berbunyi nyoossss……..byajingaaannnn! ganti ban lagi dah, serasa jadi tukang tambal ban…(kaya’ pernah denger ya kata2 ini…)

Malam harinya, lewat ponsel Mbah Kimin, satu2nya yang ada sinyalnya (wahai sodara sodari, pakailah kartu Indosat), bapak mendapat kabar bahwa Mbah Darto badannya kembali panas. Bapak terus memantau kondisi Mbah Darto lewat ponsel itu…
Keadaan sempat menegangkan karena nafas Mbah Darto mulai tersengal-sengal, bapak mulai mengkoordinasikan keadaan dengan memanggil orang2 yang dipercaya bisa menangani situasi di rumah Mbah Darto, kalau-kalau terjadi sesuatu…namun kemudian Mbah Darto bisa tenang dan tidur setelah diberi obat…beliau2 itu pun pulang ke rumah masing2.

Sekitar pukul 00.30 dini hari, saat semuanya sudah tertidur dan hanya bapak yang terjaga di sofa depan, ponsel Mbah Kimin berbunyi…
Saya pun langsung terbangun mendengarnya, ternyata Om Kiman, adik bapak di Lampung, yang menelepon, mengabari bahwa Mbah Darto telah tiada…

Bapak langsung menangis…

Kami semua terbangun dan berkumpul di ruang depan, hening…
Sungguh, penyesalan bapak begitu dalam, setelah kurang lebih 3 tahun merawatnya di rumah, justru di saat2 terakhir Mbah Darto, bapak ga ada disana…dan bapak pun ga mungkin langsung pulang saat itu.

Dini hari itu juga, bapak memberi komando dari jauh kepada Om Kiman tentang pemakaman Mbah Darto dan tetek bengeknya.

4 Oktober, kami kembali ke Jogja, karena hari Senin si Ruben ada ujian tengah semester.
Setelah berpamitan, menjelang siang kami berangkat. Menuju Jogja via Wonogiri kota, karena bapak ga mau lagi lewat Wonosari, kapok.

Masih dalam suasana duka, kami sempat berhenti dua kali di perjalanan, berdoa untuk Mbah Darto, saat masih di dekat rumah Mbah Kimin dan saat Mbah Darto dimakamkan. Kurang lebih 3 jam kemudian sampe Jogja, mampir sebentar di Malioboro, entah pada belanja apalah itu…
Sepulangnya ke kost, beberapa menit istirahat, saya langsung harus mengantarkan ibu dan Dori belanja-belanja di butik2 seputaran Babarsari plus ke Ambarrukmo Plaza, disusul beli makan di Janti trus mulangin ibu n Dori ke kost.

Langsung setelah itu, di malam Minggu itu, saya pergi ke kost2an Vika…biasssa anak muda coy, malem mingguan coy, yang muda yang bercinta, yang tua yang ngongkosin…huahhahaaha
Hari yang melelahkan…enak gila..iiihihi

5 Oktober, ke gereja pagi sama Vika…
Dapat instruksi dari bapak untuk survei ke RS Mata Dr. Yap, soalnya si Dori mo periksa mata coy…trus ane kesane sama Vika.
Abis entu, nganter Vika pulang, trus balik kost, langsung berangkat ke RS lagi sama bapak, ibu, Dori, eeehhh ternyata untuk periksa mata udah tutup…
lha ya sutra, rencana utk pulang ke Lampung besoknya ditunda.
Trus service mobil bentar di bengkel yang tidak meyakinkan itu, di deket jalan masuk Museum TNI AU Janti.

Sorenya, bapak ibu ke gereja Kotabaru berdua, saya nganterin Dori muuuuter-muter ngubek-ubek distro2 seluruh Jogja yang saya tau, sampe malem.

6 Oktober pagi, kami berangkat ke RS Mata Dr. Yap untuk periksa mata si Dori, lama buanget nungguinnya…ternyata dia kena sejenis tumor jinak, dan harus dioperasi atau dengan cara lain diapain gitu, lupa…tapi karena waktu mepet, ga mungkin operasi saat itu, mungkin nanti pas Dori libur semesteran.
Dari RS, kami langsung ke Malioboro lagi…aaaaaaarrrghhh ngapain sih kesono lagi, orang se-Jawa Bali kesana semua tumplek blek.

Sorenya saya ke kost Vika, lalu kami ke gereja sore ‘bersama’
Malamnya, kami berdua ke Amplaz, Vika diajak teman2nya untuk makan disana, dalam rangka ada seorang teman SMA-nya yang datang dari Jakarta.
Setelah itu saya antar Vika pulang, sekalian mohon doa restu untuk berangkat lagi besoknya.

7 Oktober, pagi sekitar pukul 7 kami sudah berangkat menuju Bandar Lampung, seperti biasa, dengan transit di Cirebon.
Sarapan dulu di jalan Godean [godean kita dooonnkk…]
Di Purworejo, lagi jalan enak2, eeh si bapak nyalip mobil lewat lajur kanan, padahal di tengah ada marka dua garis tanpa putus yang artinya ga boleh buat nyalip. Alhasil, di depan tiba2 muncul tiga orang polisi yang badannya gede2 segede gorila nyetop mobil kami…

“Pagi pak, tolong surat-suratnya…”

kena deh pasal 50 ribu,,,gapapalah, buat sarapan bapak-bapak itu.
Hari itu jalanan sudah agak sepi, karena puncak arus balik sudah lewat..kami pun melenggang dengan lancarrrrrr tanpa kendala.

Kira-kira pukul 6 sore, kami sudah tiba di Cirebon, langsung check-in di Hotel Srikandi yang telah kami pesan sebelumnya. Punya waktu banyak untuk istirohatt…

8 Oktober, pagi-pagi setelah sarapan nasgor hotel, kami sudah check-out dan melanjutken perjalanen langsung ke Bandar Lampung.
Siang hari kami sampai di Cikampek, bensin tinggal separo, rencananya kami akan ngisi bensin di rest area terakhir di tol Cikampek-Jakarta, tapi ternyata, berbeda dengan info yang ada di peta mudik, disana ga ada pom bensin!
Lha yo munyuk…terpaksa deh kami harap2 cemas berharap di Jakarta ga macet trus ngisi bensin di rest area pertama di tol Jakarta-Merak.

Oiya, saat masih di dalam kota Jakarta, terjadi kebingungan yang disebabkan bapak saya sendiri. Saat itu saya yang menyetir, kami harus tetap berada di jalur tol yang menuju ke Merak, namun tiba2 di depan ada 2 pintu tol, Halim I dan Halim II, bapak ragu2. Kemudian saya diinstruksikan untuk mengambil jalur masuk ke pintu tol Halim II, oke siap komandan, namun tiba2 bapak ragu lagi, bapak menyuruh saya berhenti 10 meter di depan pintu tol!
Lalu bapak turun dan bertanya pada petugas pintu tol, lalu kembali lagi ke dalam mobil…
(dari dalam mobil saya melihat plang bertuliskan “BAYAR TOL”)

“Bener ini, ayo lurus aja terus”

“Bayar tol tuh…”

“Iya ini bener, ayo maju aja”

“Iya tapi itu bayar tol”

“Iya, bener-bener, itu jalannya, ayo maju”

“Iya itu bayar tol”

“Iya, ayo!”

“Iya, yo endi duite siapke!” (iya, ya mana uangnya siapin!)

Lalu bapak langsung menyiapkan uang bayar tol…jengkel banget saya waktu itu, 10 meter di depan udah pintu tol, saya dipaksa2 maju tapi duit bayar tol belum siap, gimana sih ni navigatornya. Tapi gak tau juga, mungkin karena saya sudah mulai capek waktu itu.
Sampai di rest area, setelah ngisi bensin kami istirahat sebentar, makan donat sama minum jus, suegerrr…

Lanjut lagi, sore menjelang malam sampe di Merak, nyebrang ke Bakauheni, untung kami dapat kapal yang bagus n cepet.
Sebelum kapal berangkat, kami dihibur aksi para anak2 pelabuhan yang terjun dari atas kapal dan meminta dilemparkan uang receh dari atas kapal.

Sekitar 2 jam kemudian sampailah di Bakauheni. Saat dalam perjalanan dari Bakauheni ke rumah ini, bapak keki bgt, soalnya kami kan keluar kapal juga bareng truk2 gede yang jalannya lambat setengah mati kalo di tanjakan, plus asapnya yang item bau, kayak lu gtu deh…
Makan malam sebentar di RM Begadang IV di Tarahan, Panjang…saya minum jus alpukat aneh yang warnanya ijo bgt kayak dikasi pewarna, hiiii…

Sekitar jam 10 malam kami tiba di rumah.

9 Oktober, pagi hari saya mulai diare, bahasa medisnya mencret. Siang hari kami sekeluarga berangkat ke kota Metro untuk mempersiapkan acara malam 7 hari meninggalnya Mbah Darto, di perjalanan kami mampir dulu makan bakso, saya pup lagi di toilet warung bakso itu..teteepp mencret.

Sebelum sampai di rumah (alm)Mbah Darto, kami mampir ke makamnya dan berdoa…kembali bapak tak kuasa menahan tangis. Tiba di rumah (alm)Mbah Darto, yang kini ditempati bulik saya, terjadilah suasana haru, tangis-menangis, peluk-memeluk antar keluarga…lalu beberapa saat kemudian obrolan gambleh seputar kisah duka meninggalnya Mbah Darto.
Lagi-lagi saya mulai bolak-balik toilet.

Malamnya, acara doa arwah ala Kristen Protestan…ngantuk plus kebelet, setelah acara doa selesai, acara makan malam, namun saya sibuk bolak-balik toilet, sampe capek, lemes…
Malam itu juga setelah selesai acara, kami langsung pulang kerumah, saya menyetir sambil menahan derasnya terjangan ombak asmara dalam perut saya.
Sampai rumah kami langsung istirahat karena esoknya harus berangkat ke Jakarta menghadiri pernikahan Mas Bona, kakak sepupu saya…tapi masih aja mencret…entah sudah berapa kali saya bolak balik toilet.

10 Oktober pagi, bangun tidur tubuh ini terasa lemah lesu letih tak berdaya, beranjak dari kasur pun rasanya males bgt, cuma kuat bangun kalo udah ga kuat nahan mencret lagi, minum teh panas buatan ibu, minum obat diare, makan dikit, trus dikerokin ibu…haduhhh lemes bgt dah waktu itu, sepertinya saya kecapekan dan masuk angin..
tapi rencana tetap rencana, saya tetap harus ikut berangkat ke Jakarta karena saya sudah beli tiket KA untuk pulang ke Jogja tanggal 12 langsung dari Gambir. Saya ogah nantinya malah jadi ruwet kalo ga ikut ke Jakarta saat itu…

Sekitar pukul 3 sore kami bertolak menuju Jakarta, menggunakan mobil rental plus sopir yang disewa Om Kiman. perut mual dan ga karuan..pak sopir tetep menyetir tancap gas pol tanpa belas kasih.
Pas diatas kapal, saya tidur didalam mobil, namun tak kuasa menahan gejolak Pop Mie dalam perut yang saya makan sebelum naik kapal..mereka berontak lalu berhasil keluar……hoeeekkkk…
saya tinggalkan aksesoris cantik untuk kapal itu, tepat di sebelah mobil rentalan kami.

Sekitar jam 11 malam kami sampai di daerah Bumi Serpong Damai (BSD) dan mengontak kerabat untuk dijemput, karena kami ga hafal jalan menuju rumah bude, tempat kami akan menginap selama di Jakarta. Menunggu, lama bgt, saya mulai jengkel…mana badan lemes, mual, capek, untungnya diare udah berhenti..
Sampai di rumah bude, para kerabat masih rame pada ngobrol..setelah salam-salaman saya langsung tidur, tepar.

11 Oktober, adalah hari pernikahan Mas Bona dan Mbak Antie. Acara dimulai jam 8 pagi, saya sudah mulai fit dan sanggup untuk ikut acara. Semua orang pada sibuk siap2, dan akhirnya kami sedikit terlambat sampai di gereja. Selesai misa pernikahan dan poto2, kami rombongan keluarga mempelai pria langsung menuju rumah mempelai wanita untuk menghadiri resepsi pernikahan.

Saat sampai disana, sempat diwarnai hujan, terjadi saling menunggu inisiatif diantara kedua keluarga mempelai serta sedikit kacau, akhirnya kami bisa makan…padahal udah laper banget cuy,apalagi saya butuh asupan makanan untuk mengembalikan kondisi tubuh agar bener2 fit. Setelah makan dan salam-salaman plus poto2 lagi, kami pulang ke rumah bude.
Malamnya, biasa…pakde bude, om, tante, mas, mbak, pada ngobrol nggambleh ngetan ngulon ngalor ngidul..

Rombongan bapak saya, ibu dan Om Kiman beserta sopir memutuskan pulang ke Bandar Lampung malam itu juga, menjadi kloter pertama yang pulang. Lalu saya bersama beberapa sepupu cowok pergi ke tempat nongkrong daerah situ, makan roti bakar dan minum jus.
Pulang ke rumah bude sudah larut malam dan semua sudah pada tidur…

Akhirnya hanya tersisa kami berempat, para anak muda yang masiiiihh aja stay tune inde hoy,
maen kartu domino, bahasa las vegas nya gaple…yang kalah harus maen sambil jongkok, dan udah bisa ditebak sebenernya, akhirnya sayalah yang paling sering jongkok.
Subuh jam 04.30 pagi kami baru selesai dan langsung tidur……..

12 Oktober, pagi-pagi saya sudah bangun lagi, karena terdengar suatu kesibukan luar biasa yang mengusik telinga saya [halah!], mata masih pedes n kepala pusing.
Pagi itu, kloter kedua pulang, terdiri dari rombongan kerabat dari Lampung dan rombongan kerabat dari Bogor.
Lalu menjelang siang, kloter ketiga, rombongan kerabat dari Ciledug pulang.
Siang sampai sore saya tidur lagi, karena mata masih menuntut hak-nya…

Sekitar pukul 6 sore, kami, kloter keempat, terdiri dari saya dan sepupu saya, Tono, berangkat ke Stasiun Gambir . Kloter terakhir, keluarga Mas Wowo akan pulang ke Jogja keesokan harinya.
Kami diantar oleh para sepupu kami. Sekitar pukul 19.30 kami sampai di Gambir, lalu sambil menunggu jam keberangkatan kereta, kami jalan2 sebentar ke Monas, yang ada di sebelah Gambir.
gila, baru pertama kali coy kesitu, apik yo…[hahaha].
Akhirnya pukul 20.45, KA Taksaka II yang kami naiki berangkat, bye bye Jakarta…

13 Oktober, pagi sekitar pukul 6 kami sampai di Jogja…saya sungguh bahagia pagi itu, hari2 yang melelahkan telah usai, tugas negara telah dilaksanakan sebaik2nya…sambil menunggu Ruben menjemput, saya dan Tono minum teh hangat di warung angkringan sebelah selatan Stasiun Tugu, di pinggir Jalan Pasar Kembang…
Akhirnya, sekitar pukul 06.45 saya tiba di kost, dengan perasaan lega nan gembira ria…………………

Dari dua puluh satu hari itu, segala semangat, rasa lelah, penderitaan, air mata dan kelegaan yang muncul, pada akhirnya berujung pada satu pelajaran berharga buat saya, bahwa untuk meraih kebahagiaan kita tidak melulu harus mendapatkan apa yang kita inginkan, namun cukup dengan menjaga apa yang sudah kita punya…

Demikianlah kisah ini dituturkan seingat-ingatnya, sejujur-jujurnya, sedetil yang saya mau dan sebaik-baiknya, bukan sepanjang-panjangnya…
stick around beibeh, dan tetap ikuti kisah-kisah selanjutnya dari saya.

Terima kasih sudah menyempatkan membaca.
GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s