Kantong Kertas Berwarna Coklat

Telah lama aku kehabisan kata
berlari mencari di sudut-sudut rumah
menanti di pojokan pekarangan, dibawah tiang bendera
hingga basah dan dingin
panas lalu berkeringat
Lalu basah dan panas lagi, begitu lagi…

Kemudian aku melangkah keluar,
kalau-kalau tak sengaja terjatuh saat aku pulang malam itu
di dalam selokan mungkin, atau malah sudah di dalam perut ayam tetangga yang berkeliaran dan buang kotoran disana-sini?
Ah, semoga saja belum menjadi kotoran atau tersapu air selokan yang meluap…

Aku kembali masuk ke pekarangan,
kupikir tak perlu mencari sampai ujung gang, apalagi ke jalan besar
Aku pun takkan mati dan merana karenanya
Menanti saja di beranda rumah,
sambil menimbang-nimbang, mau makan apa malam ini?
Hampir lupa kalau kata-kataku telah habis, huruf pun tak punya
Hampir saja lupa…

Tepat saat langit memerah,
dan corong-corong masjid mulai bersuara,
kau datang berkunjung, melangkah dari ujung gang, kulihat dari kejauhan
Senyummu masih sama,
rambutmu tampak lebih panjang,
dan tubuhmu terlihat lebih kurus
Kau terlihat manis dengan seragam kerjamu,
menyapaku hangat dengan panggilan sayangmu,
lalu menyerahkan sebungkus kata dalam kantong kertas berwarna coklat

Segera kubuka kantong itu,
lalu memberimu senyuman dan satu kecupan,

dan kita saling bertukar kata…
hingga larut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s