Is This Life: The Family

Sebuah kisah takkan habis selama peradaban masih ada…

Senin, 29 Desember 2008 jam 10 malam aku berangkat dari Bandar Lampung menuju Tangerang dengan kendaraan travel yang kupesan sebelumnya.
Aku akan menghadiri (resmi aja bahasanya…) misa peringatan 40 hari berpulangnya ibunda dari Vika, sekaligus untuk pertama kalinya berkunjung dan bersilaturahmi serta bersilatlidah ke rumah calon mertua. Cihui…deg deg sorrrr…

Selama di perjalanan, suasana di dalam mobil L300 itu sunyi senyap, mirip malam kudus, para penumpang enggan saling berbicara atau sekedar berbasa-basi, termasuk aku. Hanya lagu-lagu ST-12 yang menemani kami dengan hits-nya yang terbaru, Saat Terakhir,
“Satu jam saja, ku telah bisa cintai kamu kamu kamu kamu kamu kamu kamu…”
Aku duduk di samping jendela, di samping pak kusir yang sedang bekerja…apa seehh
di sebelahku ada mbak-mbak yang tak begitu jelas wajahnya, dengan rambut rebonding yang sangat jelas bentuknya. Menurut penerawanganku, mbak ini lucu deh, entah dia ini berasal dari mana, tapi logat bahasa Jawa-nya medok banget, terdengar saat dia sedang menelepon.
Lalu saat mobil kami telah berada di atas kapal ferry, ditengah Selat Sunda yang ombaknya menggoyang kesana kemari, tiba-tiba mbak ini kebelet pipis. Dia pun bertanya kepada mas-mas yang baru saja kembali dari toilet kapal (dari semua penumpang travel, tidak ada yang turun ke ruang penumpang kapal), dia bertanya dengan bahasa Indonesia yang kacau dan medok banget, ditambah lagi dia bingung setengah mati, repot sendiri, takut tersesat di dalam kapal yang besarnya tak seberapa itu. Akhirnya dia memberanikan diri turun, dan (Haleluia…) kembali dengan selamat.

Selasa, 30 Desember 2008, sekitar pukul 3 pagi kami sampai di daerah Daan Mogot, mobil kami berhenti untuk menurunkan seorang penumpang, kemudian mbak rebonding itu tadi bicara kepada penumpang yang akan turun, ternyata eh ternyata! dia pengen numpang pipis. Aku bertanya-tanya dan berimajinasi, jangan-jangan si mbak ini tadi ga jadi pipis di atas kapal, ga menemukan toiletnya, trus tersesat ke kantin kapal, trus digodain supir-supir truk, trus trus…
Setelah kembali menurunkan penumpang, perjalanan dilanjutkan ke Bandara Soekarno-Hatta. Setelah menurunkan mas-mas yang berdandan ala esmud, dimulailah percakapan lucu antara pak sopir dengan mbak-mbak itu. Mulai tampak jelas bahwa mbak itu sangat kurang lancar berbahasa Indonesia.
Dalam berbahasa Indonesia, kata-kata yang dia ucapkan sangat bernuansa Melayu, meskipun aku tau pasti mbak ini adalah orang Jawa tulen, tapi kenapa saat berbahasa Indonesia sama sekali tidak terdengar logat Jawa-nya? Lucu…
Terlihat seketika itu pula, respek pak sopir terhadap mbak ini mulai anjlok, karena mbak ini membingungkan sekali, mbingungi banget, kalo kata orang Jawa. Dan bayangkan saja, dia seharusnya berangkat dengan maskapai Air Asia esok harinya pukul 20.00, tapi di hari itu, sepagi itu, dia sudah datang ke bandara dan berencana menginap di hotel sekitar bandara sambil menunggu waktu keberangkatan.
Dari percakapan itu pula, akhirnya terungkap bahwa mbak ini adalah seorang TKW.
No comment deh, comment –ku, yang ga adil itu, sudah terlalu banyak untuknya.

Jam menunjukkan hampir pukul 5 pagi, tiba giliranku yang akan diturunkan.
Pak sopir mulai mencari alamat dari peta seadanya yang aku buat.
Menyadari sudah hampir sampai, aku menelepon Vika untuk membangunkannya agar bersiap menyambut kedatanganku. Hohoho….
Pukul 05.30 pagi aku sampai di rumahnya,
aku langsung diajak ke atas untuk menemui ayah dari Vika…

Duduk di atas sofa berwarna hijau muda, kami mulai berbincang-bincang ringan, seringan bau nafas di pagi hari…
Pagi itu juga kuserahkan seperangkat pempek yang kubawa dari Lampung sebagai mas kawin.
Beberapa menit kemudian, si Om, biasa dipanggil anak-anaknya ‘Babe’ meminta Vika membuatkan teh panas untuk kami.
Asap rokok Sampoerna Mild tak henti mengepul dari mulutnya, tak lupa juga beliau menawarkannya padaku, namun tentu saja kutolak dengan sok jaim – jaga image.
Di ruang keluarga itu, berceceran foto-foto keluarga yang jumlahnya ratusan, rupanya foto-foto itu hendak ditata dan disusun kembali setelah peristiwa banjir sempat merusak dan memporak-porandakannya.
Dan Vika kurasa sudah terlalu lama meninggalkan kami berdua, sial…mati gayaaaa.

Kemudian keluar dari kamar, seorang Papua, sudah tak terlalu muda, badannya cukup besar, dia memperkenalkan dirinya sebagai Willem…di keluarga itu dia dipanggil OmWillem (maaf om kalau salah ketik nama).
Lalu si Om pamit ke bawah dan mempersilakan aku mandi dan beristirahat..
Om Willem pun berlalu setelah sempat nge-teh dan menghisap rokok Gudang Garam-nya..
Hanya tinggal aku dan Vika, yang saat itu masih ngantuk berat dan mulai tertidur lagi di sofa.
Aku pun melihat-lihat foto-foto itu…sampai akhirnya Vika pergi tanpa pamit masuk lagi ke dalam kamar untuk melanjutkan tidur.
Kemudian aku mandi.
Setelah mandi, cukup lama aku di tempat itu, sambil melihat-lihat foto-foto dan menghisap rokok Sampoerna Mild yang kubawa.
Akhirnya Vika bangun dan mengajakku ke bawah, aku diperkenalkan kepada Bibi Juni, adik dari bapaknya Vika,
Om Gustin, suaminya Bibi,
Ijil, anak bungsu dari Bibi,
dan Bang Putra, sepupu dari Vika.

Kembali lagi ke atas, aku berkenalan dengan Jesy, adiknya Vika yang perempuan, sebelumnya kami sudah pernah berkorespondensi lewat situs pertemanan Friendster.com
Di sofa hijau sedang duduk Kharis, atau Aris, baru bangun tidur, adiknya Vika yang paling kecil, kami sudah saling kenal beberapa bulan sebelumnya, saat dia berlibur ke Jogja dimana kami sempat ber-ajojing bersama.

Sekitar pukul 10 pagi Vika mengajakku ke bawah untuk mulai membantu beres-beres rumah, persiapan untuk misa malam harinya.
Kemudian datang kekasih pujaan hati si Jesy, Ricky namanya…kami pun berkenalan, dia biasa dipanggil Koko Ricky.
Di depan rumah, aku juga berkenalan dengan kakak tertua Vika, Felis namanya, biasa dipanggil Tua.
Aris memoles tatakan lilin dengan Brasso, aku dan Bang Putra angkat-angkat meja altar.
Sebelum lebih sibuk angkat-angkat, bersih-bersih, dll. si Om mempersilakan kami untuk sarapan terlebih dahulu.
Selesai sarapan kami beraksi kembali, aku, Vika dan Bang Putra menyikat dan membersihkan tembok rumah bagian depan yang sudah kotor dan cat-nya mengelupas. Walaupun melelahkan, tapi aku sungguh senang melihat Vika ada di sampingku, menyikat tembok yang telah ku-lap dengan air sabun, agar kotoran yang masih melekat segera tuntas.
Selepas itu, kami beristirahat sebentar menunggu instruksi selanjutnya dari si Om.

Instruksi selanjutnya adalah melepas renda-renda tenda yang sudah terpasang, renda-renda berwarna pink dengan detil yang terlihat berlebihan untuk sebuah misa dalam masa berkabung.
Kami melepasnya ikatan per ikatan, dan menggunakan tangga besi untuk bagian yang lebih tinggi.
Nah ini dia yang seru sekaligus bikin jantung makserrr…aku dalam posisi sedang berada di atas tangga besi untuk melepas ikatan yang letaknya paling tinggi di tengah tenda. Pada saat itu si Om menyuruhku untuk tetap berada diatas, kemudian demi efektivitas, tangga besi itu diangkat oleh dua orang untuk digeser ke bagian lain dari tenda itu agar aku dapat melepas ikatan yang sama tingginya. Baru aku tau kemudian bahwa itu termasuk untuk menguji mentalku.
Oke…demi kamu Vika sayang.

Selesai mencopot-copot renda-renda sekaligus jantungku, kursi-kursi plastik warna merah juga mulai kami susun, plus meletakkan dua pot bunga untuk menghias meja altar.
Semuanya beres dan hanya butuh sedikit sentuhan akhir.

Aku, Bang Putra, Om Willem dan si Om berbincang-bincang ringan dibawah tenda tarup itu. Cewek-cewek pada ke salon.
Si Om masuk ke dalam rumah dan hanya tinggal kami bertiga. Bu RT sebelah memberikan seikat rambutan untuk kami nikmati.
Seiring waktu berlalu, langit membiru beku, deru mesin jet susul-menyusul…halah apaan seh
Kami pun masing-masing beristirahat siang.

Menjelang sore, kesibukan kembali dimulai.
Aku bertemu lagi dengan satu lagi anggota keluarga, Feni namanya, biasa dipanggil ‘Ni…kakaknya Ijil.
Di atas, di ruang keluarga, kami berlatih menyanyikan lagu Di Doa Ibuku Namaku Disebut…untuk ditampilkan selepas misa malam harinya. Ricky sampai repot-repot mengambil CD lagu itu di rumahnya agar lirik yang kami nyanyikan tidak keliru. Beragam nada kami latih, sampai akhirnya tidak kami temukan nada yang tepat…ahhahahaha…ntar ngikut pengiring musik-nya aja dah…

Kami juga mulai memberi sentuhan akhir persiapan,
meja altar diberi taplak meja warna putih,
foto almarhum, yang biasa dipanggil Mamak, diletakkan rapi di depan altar,
segala perlengkapan misa seperti piala, cawan apalah itu dan klinting-klintingan disiapkan.
Satu persatu dari kami bergantian mandi.

Waktu itu aku tidak membawa baju berwarna putih, maka Vika meminjamkan kemeja si Om kepadaku.
Sebelum para tamu datang, kami dianjurkan (macam dokter saja) untuk makan terlebih dahulu, karena kemungkinan besar kami baru bisa makan setelah acara selesai, sekitar pukul 10 malam.

Selesai makan, aku berkenalan dengan yang namanya Bang Frans, teman dari Kak Tua.
Para tamu mulai berdatangan, begitu pula dengan kelompok paduan suara yang bertugas, beserta peralatan musiknya.
Romo pun sudah datang dan mempersiapkan diri di dalam.
Keluarga, yang memakai pakaian putih, dipersilakan duduk di barisan depan, termasuk aku, Ricky dan Bang Frans.

Misa berjalan apa adanya, tanpa tanda tanya.
Saat misa sedang berlangsung, aku melihat seorang pria berkemeja putih, kemeja milik Vika yang tidak jadi kupakai, sedang sibuk memotret kesana kemari dengan kamera pocket digital. Kemudian baru aku ketahui bahwa dia adalah Bang Abrian, kekasih pujaan hati nya Kak Tua. Ow…baru ngeh aku.

Selesai misa, kepala rumah tangga, bapak, Babe, si Om, memberi sedikit sambutan.
Sayangnya, santap malam sudah terlanjur dibagikan dan beberapa dari para tamu sudah mulai menyantapnya, sehingga sambutan si Om menjadi kurang mantap.
Saat para tamu makan malam itu pulalah kami menampilkan sebuah persembahan fantastis dari kami, paduan suara luar biasa yang dihimpun dari bakat-bakat muda bertalenta tinggi dan bersuara emas, membawakan sebuah lagu indah berjudul Di Doa Ibuku Namaku Disebut.
Kemudian sekilas kulihat, Vika meneteskan air matanya, begitu pula si Om yang duduk menonton di barisan depan…
aku jadi tergetar menyanyikannya.

Di waktu ku masih kecil
gembira dan senang
tiada duka kukenang
tak kunjung mengerang
Di sore hari nan sepi,
ibuku bertelut
sujud berdoa, kudengar namaku disebut

Di doa ibuku, namaku disebut
Di doa ibu kudengar ada namaku disebut

Seringlah ini kukenang
di masa yang berat
Di kala hidup mendesak dan nyaris ku sesak
melintas gambar ibuku sewaktu bertelut
Kembali sayup kudengar namaku disebut

Sekarang dia telah pergi
ke rumah yang senang
namun kasihnya padaku
selalu kukenang
Kelak disana kami pun
bersama bertelut
memuji Tuhan yang dengar namaku disebut

Selesai makan malam, para tamu mulai pulang, namun masih ada juga yang asik berbincang-bincang.
Kira-kira pukul 10 malam, para tamu telah pulang seluruhnya, dan bagian depan rumah mulai kami bereskan seadanya.
Selepas itu, aku masuk ke ruang tamu depan, Bibi, Ijil, Feni, Bang Putra, Kak Tua, Bang Abrian, Jesy, Ricky dan Vika sedang berkumpul, ‘evaluasi’ kecil-kecilan sambil menyantap kue-kue kecil yang masih tersisa plus poto-poto. Aris dan Stephen (sepupunya) juga kemudian ikut gabung.
Kemudian kami makan malam bersama, menyantap nasi kotak yang dipesan untuk acara itu, di ruang televisi bawah, beralaskan tikar, sambil mendengarkan obrolan ringan antara si Om dan anak-anaknya, juga Bibi, seputar evaluasi misa.
Lumayan sukses lah acaranya, banyak juga yang datang, padahal secarrra lagi masa liburan gettoo, orang – orang situ kan biasanya pada pergi liburan kemannnaa gettoo…

Hari itu ditutup dengan muda-mudi pada maen kartu ‘Uno’
dan aku yang ga (belom) bisa maen itu cuma liat nontonin sebentar sama Vika lalu segera tidur di sofa hijau muda di ruang atas sambil sebelumnya diselingi obrolan sebelum tidur dengan Bang Frans, yang kebetulan juga menginap disitu.

Hari kedua di rumah calon mertua, 31 Desember 2008, hari terakhir tahun 2008.
Aku bangun sekitar pukul 8 pagi, lalu segera mandi dan sarapan.
Bang Frans sudah pulang pagi-pagi sekali karena harus berangkat kerja.
Akhirnya aku berkenalan secara resmi dengan Bang Abrian,
juga ada Epi, keponakan jauh si Om.
Pagi itu si Om memesankan tiket untukku dan Vika, kembali ke Jogja menggunakan kereta api tanggal 2 Januari nanti.
Tiket dipesan lewat telepon.
Kemudian aku dan Vika pergi ke ATM Mandiri terdekat untuk melakukan pembayaran menggunakan rekening bank si Om, kami menggunakan sepeda motor-nya Jesy dan sempat mengisikan bensin.
Menjelang siang, Om Willem, Om Gustin, Bang Putra, Ricky dan aku bahu membahu mengangkut kursi-kursi plastik merah dan meja altar ke atas mobil pick-up untuk dikembalikan ke gereja setempat.
Gereja itu terletak di kompleks sebelah, Vila Taman Bandara. Gerejanya cukup bagus, meski tidak terlalu besar, namun dengan area parkir yang cukup luas.
Dua kali angkut, kursi-kursi dan meja altar selesai kami kembalikan.
Kami berharap tenda yang terpasang untuk misa di malam sebelumnya belum akan dilepas dan bisa kami gunakan untuk acara tahun baruan.

Setelah itu, tidak ada lagi pekerjaan yang bisa kami lakukan. Aku manfaatkan waktu yang ada untuk sedikit membaca-baca bahan ujian di atas tikar yang digelar di ruang atas, gile aje, tanggal 5 sudah mulai UAS aku belum belajar sama sekali.
Saat sedang belajar aku mulai tertidur, dibuai angin akhir tahun yang sepoi-sepoi melambai, dan si Om juga tidur siang di atas sofa hijau setelah membaca koran Seputar Indonesia.

Sore hari, kami mulai mandi dan bersiap-siap, pukul 7 malam kami akan mengikuti misa tutup tahun di gereja setempat.
Aku ingat betul saat itu, setelah mandi, si Om berkata padaku,

“Mas Zozi makan dulu, nanti kita ke gereja sampai malam”

Aku menjawab, “Iya Om, nanti aja, saya masih kenyang, memangnya lama ya Om misanya?”

“Kuat ya nanti di gereja, sampai sekitar jam sembilan lah”

“Iya Om nanti aja”

Kami pun berangkat ke gereja, minus Om Gustin yang harus jaga warung dan Aris yang masih ngantuk berat karena kurang tidur dan Om Willem yang entah kemana.

Petasan dan kembang api mulai menyala-nyala di daerah itu, sedikit mengganggu kekhusyuk-an kami beribadah, namun tidak mengurangi niat kami untuk bersyukur pada Tuhan…(bahasanya Departemen Agama banget ya cuy…hehehe)

Selepas misa, aku dan Vika menyempatkan diri untuk berdoa di tempat semacam Goa Maria di dalam kompleks gereja itu. Kembali air matanya berlinang…

Sebelum tiba kembali di rumah, Bibi mampir sebentar di warungnya, ngambil apa gitu…

Setibanya di rumah, tanpa basa-basi tanpa tedeng aling-aling, kami langsung mempersiapkan tetek bengek nya untuk acara tahun baruan, bakar-bakaran!
Si Om kembali memimpin dengan instruksi-instruksi jitu-nya…
aku, Om Willem, Bang Putra dan Bang Abrian menyiapkan kayu-kayu dan fasilitas bakar-membakar.
Ada jagung, sate sosis, ayam dan ikan kakap batu untuk menu malam itu, plus racikan sambal kecap ala Medan.
Bakar-bakaran pun dimulai, petasan dan kembang api mulai semarak dimana-mana, meski belum mencapai puncaknya.
Sambil membakar ayam dan ikan, kami menyantap menu pembuka, jagung dan sate sosis bakar.
Ricky pun datang.
Kami cukup menikmati momen itu, apalagi aku dan Vika,
karena kebetulan hari itu genap 4 bulan sudah kami jadian. Cit cuiiittt……..

Setelah semuanya selesai dibakar, santap malam akan segera dimulai, gila aku udah laper banget waktu itu, maklumlah, belum makan dari siang.
Doa makan dipimpin oleh Ricky, calon menantu pujaan…ciiiieeeeeeeeee
Mantap dah pokoknya, lalu Aris yang sebelumnya menghilang bersama teman-temannya datang dan ikut bersantap ria.
Vika makan ikannya banyak banget, laper apa doyan?hehehehehe…..

Kemudian seorang tetangga kompleks dan putrinya datang berkunjung dan ikut menyantap ayam bakar racikan kami.Mantapppp…

Si Aris yang menerima instruksi dari si Om langsung dengan semangat menyuruh kami semua naik ke ruang atas karena acara renungan dan doa bersama akan segera dimulai. Aku curiga, bukankah Aris tidak suka dengan hal-hal formal macam begini, tapi kenapa tiba-tiba dia jadi begitu semangat?
Hmmm…pasti dia ingin segera cabut ke tempat teman-temannya untuk mempersiapkan petasan dan kembang api pamungkas.

Setelah tamu pulang, renungan dan doa bersama dimulai, si Om memimpin renungan,
sungguh, saat itu aku merasa terhormat, lega sekaligus bahagia karena telah dianggap sebagai salah satu anggota keluarga. Terima kasih.
Si Om berbicara tentang pentingnya ‘bersyukur’
dalam keadaan apapun,
dalam situasi seburuk apapun,
pasti ada rencana Tuhan yang luar biasa untuk kita,
dan kita harus mensyukuri setiap hal yang telah terjadi pada diri kita.
Aku sungguh sepakat tentang itu.
Setelah itu doa dipimpin oleh Vika, kemudian dilanjutkan oleh si Om.
Selesai doa, kembali kulihat mata-mata merah juga basah…

Waktu menunjukkan tinggal beberapa menit lagi menjelang berakhirnya tahun 2008,
sambil menunggu, beberapa dari kami meminum bir hitam dingin yang diambil dari kulkas.
Jam menunjukkan pukul 00.00 dan suara kembang api menggelegar di seluruh tempat, juga di sekeliling rumah.
Kami semua keluar ke balkon, menikmati puncak pergantian tahun dari tempat itu, menikmati petasan dan kembang api yang saling berbalas indah.
Tak lupa juga berfoto ria dan berseru-seru mengiringi dentuman kembang api.
Beberapa menit kemudian kami saling bersalaman, mengucapkan selamat tahun baru!

Setelah suara petasan dan kembang api mereda, bir segera kami habiskan, karena kami akan berkunjung ke rumah Mama-mama (Paman-paman) dari Mamak-nya Vika.
Kami semua ikut kesana, dan karena tidak semua dapat terangkut dengan mobil, maka beberapa dari kami berboncengan menggunakan sepeda motor. Aku berboncengan dengan Om Gustin.
Tempat Mama-mama itu tidak terlalu jauh, sesampainya disana kami langsung masuk dan bersalam-salaman, banyak banget cuy orang disitu…entahlah itu siapa aja, dijelasin sama Vika pun aku ga pernah ngeh. Hehehehe…
Aku, Bang Putra, Ricky dan Bang Abrian hanya sebentar di dalam, karena kemudian Om Willem memanggil “Gabriel..Gabriel..” ke arah kami. (Maksud Om Willem adalah Bang Abrian, hehehe lucu ya, kayaknya sampe sekarang Om Willem juga ga pernah bisa nyebut nama Bang Abrian dengan benar)
Kami berempat pun keluar ke depan rumah, duduk-duduk di depan lapak barang-barang rongsokan. Ternyata Om Willem minta diantarkan oleh Bang Abrian entah kemana lah itu.
kami bertiga ngobrol-ngobrol disitu, kemudian Aris gabung, juga Mama Dion.

Singkat cerita, kami pun pulang,
aku berboncengan dengan Bang Abrian, karena Om Willem sudah raib entah kemana dan Om Gustin ada keperluan lain.
Di perjalanan pulang, kami berempat, aku, Bang Putra, Bang Abrian dan Ricky merencanakan niat busuk untuk minum-minum sedikit.
Kami jalan duluan di depan dan berhenti di sebuah warung depan kompleks yang Bang Putra jelas tau disitu menjual minuman keras (padahal dia baru 2 bulan tinggal di rumah Vika…),
tapi baru saja kami turun dan akan masuk ke warung, mobil si Om sudah terlihat di belakang, niat itu kami urungkan dan kami pun pulang dulu ke rumah.
Setelah situasi dilihat cukup aman, kami berempat kembali ke warung itu dan membeli 2 botol Vodka jumbo plus Calpico Soda rasa melon sebagai campurannya.
Kami berencana untuk minum di rumah saja, karena pasti ada sedikit toleransi mengingat saat itu adalah malam tahun baru.
Namun tak semulus rencana, ternyata Vika marah besar. Lebih-lebih kepadaku.

Tapi ya sudahlah, kami nikmati saja sambil main kartu di depan ruang TV bersama Kak Tua, dan Jesy. Cukup seru saat itu…
Seiring waktu berlalu, Bang Abrian dan Ricky berguguran,
hanya tersisa aku dan Bang Putra yang harus menghabiskan minuman laknat itu.
Kami nikmati sambil mengobrol kacau kesana kemari…
Sekitar pukul 5 pagi kami sudah tak sanggup lagi,
sisa minuman yang tinggal setengah gelas itu kami buang.

Hari pertama di tahun yang baru, 1 Januari 2009
aku baru bangun pukul setengah dua belas siang! jancuk!
itu pun dibangunkan Vika karena aku tidur di atas tikar di depan sofa hijau muda tempat biasa si Om duduk-duduk. Saat itu semua orang sudah bangun kecuali aku. Kan ga enak bgt tuh, mo’ ditaroh dimana ni muka?!
Setelah duduk-duduk sebentar di teras depan untuk mengumpulkan nyawa, aku langsung diajak makan siang bersama Bang Putra. Perut rasanya masih kacau balau tak terkira mualnya.
Vika yang kelihatan jelas masih marah terlihat sibuk kesana kemari melakukan pekerjaan rumah tangga.
Kemudian aku yang setelah makan hanya duduk-duduk di atas balkon mendapati Vika sedang mengepel lantai ruang atas, aku menunggu kesempatan untuk memulai pembicaraan dengannya.
Kebetulan saat itu Bang Putra mengajakku jalan-jalan, jadi kugunakan saja tema itu untuk memulai pembicaraan. Tapi apa yang terjadi pemirsa?!…dia hanya mengangguk dingin. Ya sudahlah…

Lalu aku dan Bang Putra pergi menggunakan sepeda motor Vario merah yang biasa dipakai Jesy. Kami memutuskan untuk pergi ke pantai, namun tak ingin ambil resiko pergi kesana tanpa STNK, yang sepertinya dibawa Jesy.
Kami menghampiri Jesy, yang saat itu sedang berada di rumah Ricky, di kompleks sebelah.
Lobi demi lobi, nego demi nego telah dilakukan, akhirnya Jesy dan Ricky beserta adiknya Ricky dan pacarnya juga ikut ke pantai. Kami berenam berangkat dengan berboncengan menggunakan 3 sepeda motor. Bang Putra ga bisa bawa motor, jadi aku dah yang bawa, padahal aku benar-benar buta jalan…kunyuk.
Pantai Tanjung Pasir, yang kata Bang Putra tidak terlalu jauh, ternyata cukup jauh. Ditambah lagi jalanan Tangerang ramainya, panasnya dan ruwetnya plus ugal-ugalannya minta ampun.
Kami melaju agak cepat, karena khawatir akan pulang kemalaman.
Mendekati daerah pantai, dimana tambak dan rawa-rawa mulai terlihat, laju motor kami mulai tersendat.
Semakin tersendat…kendaraan roda dua dan roda empat menumpuk.
Terus tersendat…sampai kemudian terhenti oleh sebuah kemacetan panjang.
Sial…tuk..tik…tuk…tik…tak…tik…tuk…
Jalanan kemudian berubah menjadi satu arah, semua orang menuju ke pantai, kami sama sekali tidak bisa bergerak.
Jam menunjukkan hampir pukul setengah lima sore, aku mulai emosi, stres dan tak tahan lagi dengan neraka itu. Kuajak Jesy dan Ricky untuk balik arah dan pulang saja, tidak mungkin kita bisa sampai ke pantai tanpa kemalaman. Lalu kukatakan pada Bang Putra untuk turun dulu dari atas motor, agar lebih mudah bagiku bergerak bermanuver ngesot sana sini mencari ruang untuk memutar balik sepeda motor, dia pun turun dan berdiri di pinggir rawa tak jauh dari tempat itu.
Kebetulan para pengendara roda dua yang lain juga ada yang mulai berbalik arah untuk pulang. Namun setelah sukses berbalik arah, tetap saja kami belum bisa bergerak.
Beberapa lama menunggu, akhirnya perlahan-lahan kami dapat membuka gas sepeda motor kami dengan sedikit meliuk-liuk menggunakan apa yang dinamakan ‘manuver cobra’. Huahahaha…

Sebelum sampe rumah, pas ngisi bensin motornya Jesy, Bang Putra masih ngajak pergi lagi, entah kemana. Ah akyu tak mau lah yau…
Kami sampai kembali di rumah sekitar pukul 5 sore setelah melewati jalan pintas kampung untuk menghindari macet yang terjadi di jalanan yang harusnya kami lalui.
Aku langsung beristirahat di kamar Bang Putra, aje gile buset, badan rasanya patah-patah semua…

Saat itu Vika sedang tidur di kamarnya, aku yang saat itu hanya sendirian tiba-tiba sangat merindukannya. Pikiranku berlari kemana-mana. Aku hanya bisa berharap, dia baik-baik saja.
Kemudian Bang Putra masuk.

Sekitar pukul setengah tujuh malam aku terbangun dan mendengar sepertinya sedang ada tamu di ruang atas, di tempat si Om biasa duduk-duduk. Bang Putra ternyata sudah bangun terlebih dahulu, namun tidak berani keluar karena kamar Bang Putra memang berdekatan dengan ruang keluarga tempat para tamu itu sedang berbincang dengan si Om.
Kami pun menghabiskan waktu sambil merokok dan berbincang ringan di dalam kamar. Para tamu tak kunjung pulang.
Lalu kuajak Bang Putra untuk memberanikan diri keluar kamar dan turun ke bawah.
Di bawah, anggota keluarga yang lain sedang berkumpul sambil menonton televisi. Bibi dan Vika sibuk mempersiapkan makan malam untuk para tamu, yang ternyata hanya dua orang.
Aku dan Bang Putra ikut menonton televisi, lalu makan malam dan kemudian merokok dan mengobrol di teras depan. Om Willem datang bergabung.
Saat itulah Om Willem bercerita sedikit tentang kisah hidupnya.

Sekitar pukul 9 lewat, Aris dan Stephen pulang. Mereka membawa kartu remi dan mengajak kami main di teras itu. Om Willem hanya menonton sambil cengar-cengir.
Kedua tamu si Om baru pulang sekitar pukul 10 malam, diikuti Bang Abrian yang juga pamit pulang setelah sempat menginap 2 malam sebelumnya.
Lalu hujan mulai turun dan kami pindah main kartu ke dalam rumah sambil menonton televisi. Kami juga menikmati serbuan nyamuk-nyamuk malam yang datang tak diundang pulang bawa darah.
Kebetulan dua film horor berbeda sedang diputar bersamaan di televisi,
Bang Putra menakut-nakuti Aris dan Stephen yang dasarnya memang penakut. Si Aris tetap penasaran dan ingin menonton film-film itu sampai selesai, sedangkan Stephen matanya sudah memerah dan terus mengajak kami naik ke atas untuk segera tidur. Dia tidak berani naik ke atas sendirian. Tingkah Aris dan Stephen sangat lucu karena ketakutan.
Selesai film-film itu, kira-kira pukul 1 dini hari, kami naik ke atas untuk tidur. Mereka tidur di dalam kamar, dan aku di atas tikar di ruang keluarga dengan Om Willem.

Sebelum tidur, Bang Putra mengakui bahwa sebenarnya dia juga penakut pada hal-hal begituan, sehingga dia mengajakku untuk tidur di kamarnya saja. Hahahaha Bang Putra…Bang Putra…(sebenarnya aku juga takut…)
Aku tidur di lantai kamar beralaskan tikar kecil dan selimut tebal.
sebelum tidur, aku berkata pada Bang Putra, aku berniat untuk bangun pagi, untuk menunjukkan impresi yang baik di mata si Om…secarrra gue besoknya udah balik ke Jogja. Masa’ iya bangun siang mulu…

Hari kedua di tahun yang baru, 2 Januari 2009
aku sukses bangun jauh lebih pagi, sekitar pukul setengah enam pagi. Mantaaappp!
mau tau rahasianya?
Nyamuk! I love you nyamuk.
begini ceritanya:
Masih ingat kan, malamnya aku tidur beralaskan tikar kecil dan selimut tebal. Aku mengira di kamar Bang Putra itu tak ada nyamuk, tapi ternyata…pasukan nyamuk berjumlah puluhan dengan spesialisasi khusus menyerangku dengan menyamuk-buta (Membabi-buta –Red). Selimut tebal yang tadinya kujadikan alas tidur tiba-tiba berpindah tempat menutupi tubuhku yang darahnya nyaris tersedot habis.
Beberapa saat aku dapat kembali tidur dengan tenang.
Namun apa mau dikata, pasukan nyamuk itu memang telah dilatih oleh Kopassus. Mereka memaksakan diri tetap menyerang, menyedot darah lewat wajahku!
Tentu saja aku tak dapat berbuat banyak, ditambah lagi tubuh ini mulai kepanasan karena tertutup oleh selimut yang cukup tebal. Aku hanya dapat berguling-guling gelisah kesana-kemari.
Sekitar pukul 5 pagi aku dapati Bang Putra keluar kamar.
Setengah jam kemudian aku mengikuti jejak Bang Putra dengan keluar kamar, menyerah kalah pada nyamuk-nyamuk terkutuk.
Ternyata Bang Putra pindah tidur di atas tikar di ruang keluarga. Om Willem juga masih tertidur lelap.
Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi dan teringat akan niatku untuk bangun pagi, maka aku putuskan untuk tidak kembali tidur.

Hanya sekitar limabelas menit lamanya aku duduk diatas sofa hijau sampai kemudian si Om bangun dan keluar dari kamar. Sempurna! aku sudah pasang tampang sepagi itu di depan si Om.
Si Om menuang air putih dari dalam teko plastik ke dalam gelas kemudian meminumnya, lalu tak lupa menyalakan rokok pembuka hari.
Bang Putra bangun dan turun ke bawah.
Om Willem juga bangun dan pindah tidur ke kamar Bang Putra.
Si Om mempersilakan kepadaku untuk membuat teh atau kopi.
Segera aku turun ke dapur bawah untuk membuat segelas teh panas. Bang Putra yang sedang duduk di sofa warna merah muda di depan televisi sambil merokok kemudian membantuku mencari teh celup dan gula di dapur.
Setelah memasukkannya ke dalam gelas, aku kembali ke atas untuk menuangkan air panas dari dispenser yang ada di ruang keluarga atas.
Si Om sedang duduk menikmati rokok di singgasana-nya di atas sofa hijau, di dekat telepon rumah yang ada di atas meja dekat jendela. Aku segera duduk kembali di sofa hijau untuk sekedar menunjukkan bahwa aku punya nyali berhadapan empat mata dengan calon mertua. Hehehehehe…..
Sesekali ku sruput teh panas itu…tak ada pembicaraan panjang lebar dengan si Om.
Tak lama kemudian, si Om masuk ke kamar mandi.
Aku pun berpindah tempat ke teras depan untuk menikmati udara pagi.

Sambil menikmati rokok, pikiranku tetap pada Vika, apakah dia masih marah, apakah dia masih belum mau tersenyum, dan apa jadinya saat kami bersama-sama kembali ke Jogja nanti malamnya.
Koran pagi Seputar Indonesia datang, kubaca-baca, kubolak-balik, mirip pegawai mapan dengan kemeja rapi dan dasi tanpa garis lipatan, yang menyempatkan diri membaca koran sebelum berangkat kerja. Bah…!
Cukup lama aku duduk disitu, kudengar sayup-sayup dari dalam rumah, suara Bibi, Ijil dan Vika. Sepertinya orang rumah sudah pada bangun. Bibi mulai sibuk menyapu lantai rumah dan sempat keluar masuk rumah untuk membuang sampah.
Tak lama, Ijil keluar membawakan 3 potong roti isi dalam kemasan plastik untukku. Terima kasih Ijil…
Aku makan satu roti isi blueberry untuk menemani teh panas yang mulai dingin dan tersisa setengah gelas saja.
Epi pulang dari kerja lemburnya.
Si Om keluar untuk memanaskan mobil dan tak lama kemudian pergi,
kututup pintu gerbang dan segera masuk ke dalam,
tak lupa membawa masuk koran yang diantarkan pagi itu dan 2 roti yang masih tersisa.

Aku lupa siapa saja yang berada di ruang TV pagi itu, dan aku pun ikut duduk di sofa, menonton televisi.
Bibi, Vika dan Epi sibuk menyiapkan sarapan.
Aris dan Stephen yang sudah bangun dan mandi kemudian sarapan, lalu langsung pergi entah main kemana lagi.
Setelah itu, Vika menawarkan kepadaku untuk sarapan, aku mulai lega, apalagi saat Vika mengambilkan nasi untukku. Ya oloh…bukan main senangnya.

Selesai sarapan, aku kembali menonton televisi bersama beberapa anggota keluarga yang lain, aku lupa siapa saja. (Kan udah dibilang aku lupa)
Si Om datang dan langsung sarapan.
Dari desas-desus yang muncul, aku dengar kalau jam 11 siang kami akan pergi jalan-jalan ke Monas (Monumen Nasional –Red) untuk kemudian mengantarkanku dan Vika ke Stasiun Gambir.
Yang ada di pikiranku waktu itu, kereta kami berdua baru akan berangkat pukul 20.45, lalu kenapa harus se-siang itu kami berangkat ke Monas, yang hanya bersebelahan dengan Stasiun Gambir.
Tapi ya okelah…no problemo do nascimento la plata
Sebelum mandi, aku meminta pendapat Vika, bagaimana baiknya dan sopannya mengganti uang tiket kereta api yang telah dibayarkan oleh si Om.
Aku pun segera mandi dan mengemasi barang-barangku.

Vika memintaku membeli beberapa camilan dan minuman untuk dibawa sebagai bekal berwisata ke Monas, sekalian juga untuk camilan kami berdua selama dalam perjalanan kembali ke Jogja malam harinya. Aku berangkat ditemani Bang Putra, menuju minimarket Indomaret terdekat, yaitu di kompleks sebelah, Vila Taman Bandara.
Sepulangnya dari Indomaret, semua orang sudah siap berangkat, jam sudah menunjukkan lewat dari pukul 11 siang. Aku segera menurunkan tas dari kamar Bang Putra dan memasukkan sepatuku ke dalamnya, aku siap berangkat.

Hanya Bang Putra, Epi dan Aris yang tidak ikut. Bang Putra harus jaga rumah, Epi sepertinya tidur karena malam sebelumnya dia kerja lembur dan Aris, sudah menghilang bermain entah kemana.
Inilah formasi lengkap 4-4-2 yang ikut berwisata ke Monas:
– Om Gustin, Om Willem, Vika dan aku (belakang)
– Kak Tua, ‘Ni, Ijil, Bibi (tengah)
– Jesy dan Si Om (depan)

Ibukota sungguh panas hari itu.
Dalam perjalanan, Vika berkata padaku bahwa dia telah bercerita kepada si Om tentang betapa bingungnya aku untuk mengganti uang tiket kereta api. Sial…
Kami mampir di pusat perbelanjaan Pasar Pagi untuk mengambil baju si Om yang dipesan di salah satu toko jahitan di tempat itu.
Kemudian kami melewati gedung-gedung tua peninggalan kolonial, juga gedung-gedung pemerintahan yang megah luar biasa itu.
Ibukota lebih kejam dari ibu tiri…(apaan seh, ga jelas)
Lalu mampir di Gambir sebentar untuk mengambil tiket kereta api yang sudah dipesan sebelumnya.
Setelah itu barulah kami masuk ke area Monas.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sedang mengadakan demonstrasi besar-besaran di sekitaran Monas, menentang agresi Israel ke Jalur Gaza. Demo merangkap kampanye mas?
Pengunjung Monas saat itu sedang ramai-ramainya, karena saat itu masih dalam masa liburan tahun baru.
Kami masuk ke area dalam Monas lewat satu-satunya jalan masuk, sebuah terowongan bawah tanah yang cukup panjang, berlantaikan dan berdinding marmer.
Setelah membeli karcis masuk untuk 10 orang, kami pun masuk ke dalam Monas, hanya di bagian cawan-nya saja.
Di dalam, terdapat ruang yang cukup luas beserta puluhan diorama yang menggambarkan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Kami berkeliling melihat diorama-diorama itu satu persatu, sambil sesekali diselingi foto bersama.
Juga ada foto-foto proses pembangunan Monas, sebuah miniatur peta Jakarta, dan gambar-gambar rencana pembangunan kota.

Setelah lelah berkeliling, kami duduk-duduk sebentar di bangku-bangku yang tersedia disitu.
Kemudian kami naik keluar ke pelataran cawan dan mencari tempat untuk duduk bersantai.
Orang-orang terlihat mengantre untuk naik ke puncak Monas, dan menurutku antreannya terlalu panjang untuk terpikirkan secara akal sehat.
Lalu kami duduk beralaskan lantai di salah satu sudut pelataran itu, menikmati derasnya angin yang menghujam jantungku…kau membuatku merasakan indahnya jatuh cinta, indahnya dicintai, saat kau jadi milikku…

Kak Tua, Vika, Jesy, ‘Ni dan Ijil bermain kartu disitu,
sedangkan Bibi, Om Gustin, Om Willem, Si Om dan aku hanya duduk-duduk melihat-lihat sambil sesekali berbincang ringan.
Om Gustin membawakan beberapa coffeemix dalam gelas-gelas plastik kecil yang dibeli dari penjual minuman di luar pagar.
Beberapa kali kuambil gambar mereka sekeluarga dengan kamera pocket digital milik Kak Tua.

Hari menjelang sore, kami putuskan untuk makan siang di warung-warung sekitar area parkir.
Sambil mengantre naik kendaraan kereta mobil yang disediakan pengelola Monas untuk menuju area parkir, ku sempatkan memotret si Om dengan anak-anaknya berlatarkan Monas yang menjulang tinggi ke angkasa.
Hari masih cukup panas.
Sesampainya di area parkir, kami langsung mencari tempat makan. Aku melahap semangkuk bakso, yang tentu saja citarasa-nya berada jauh di bawah kriteria standar rasa bakso yang kutetapkan.

Setelah perut sedikit kenyang, kami mencari tempat di area parkir untuk duduk-duduk menghabiskan waktu menikmati sore. Kebetulan saat itu si Om juga akan bertemu dengan kawan lamanya dari Jayapura.
Area parkir itu penuh dengan manusia, didominasi oleh massa PKS yang telah selesai berdemo. Ternyata mereka juga membawa serta keluarga mereka, untuk sekalian berwisata di Monas.
Kami duduk-duduk di pinggir sebuah taman kecil yang sudah tak jelas bentuknya.
Banyak yang berjualan layang-layang di tempat itu, sehingga layang-layang ada dimana-mana. Sebuah alat permainan yang cocok dengan wisata keluarga.
Kemudian entah darimana datangnya, tiba-tiba sebuah layang-layang kecil jatuh di bawah kedua kakiku, lengkap dengan gulungan benangnya. Tentu saja kuambil layangan itu sambil menunggu pemiliknya datang untuk memintanya kembali.
Sekian lama, layang-layang itu tak ada yang datang mengambil.
Lalu Vika raih layang-layang kecil itu dan berlari hendak menerbangkannya, Jesy ikut bergabung, juga Ijil dan ‘Ni…

Hari semakin sore dan tempat itu semakin lapang dipandang.
Vika, Jesy, Ijil dan ‘Ni yang sudah bosan berusaha untuk menerbangkan layang-layang kemudian kembali bermain kartu.
Cukup lama kami duduk disitu, bahkan menurutku terlalu lama.
Lalu teman lama si Om datang, datang berdua dengan anak lelakinya.
Si Om, teman lamanya+anaknya, Om Gustin, Om Willem dan Kak Tua berpindah tempat ke sebuah warung makan dekat situ untuk berbincang-bincang lebih asoy.

Aku, Bibi, Vika, Jesy, ‘Ni, dan Ijil kembali ke mobil untuk beristirahat. Om Willem kemudian menyusul.
Hari mulai gelap.
Beberapa saat kemudian, si Om, Kak Tua dan Om Gustin kembali ke mobil.
Kemudian kami segera keluar dari tempat itu, dari area Monas, yang panas meranggas.

Selanjutnya, aku dan Vika langsung diantar ke Stasiun Gambir,
mereka tidak turun dari mobil dan hanya menurunkan kami berdua.
Berlangsung begitu cepatnya, kami berdua berpamitan dengan seluruh anggota keluarga.
Aku sempatkan pula menghampiri si Om yang duduk di belakang kemudi, untuk berpamitan sekaligus bermaksud mengganti uang tiket kereta api. Jawaban darinya sebenarnya sudah kuduga, si Om mengatakan agar uang tiket itu diserahkan saja kepada Vika.

Jam masih menunjukkan pukul 7 malam,
kami berdua langsung naik ke lantai dua Stasiun Gambir untuk mengisi perutku yang sudah kosong melompong.
Tapi ternyata, tempat-tempat makan di lantai dua sudah tak ada lagi, entah pada ngacir kemana…
Lalu kami berdua kembali turun ke lantai dasar menuju ke sebuah kedai makan yang sudah pernah kukunjungi sebelumnya.
Hanya aku yang makan, Vika hanya minum sebotol teh Sosro.
Kami duduk sambil berbincang-bincang sedikit mengenai pengalamanku selama berada di rumahnya.

Selesai makan, kami kembali naik ke atas, ke lantai tiga, langsung ke peron keberangkatan.
Setelah mendapat tempat duduk, kami melanjutkan obrolan sambil menunggu jam keberangkatan.
Kami mengobrol begitu banyak, hingga tak terasa kereta api eksekutif Taksaka-2 yang kami nantikan telah tiba dan siap berangkat.
Kami pun masuk ke gerbong 1, tempat duduk 3A dan 3B, menata barang bawaan kemudian menata posisi uueenak untuk tidur…

Tepat pukul 20.45 Taksaka-2 berangkat menuju Jogja.
Hati lega, tugas negara telah selesai.
Sekitar pukul setengah sepuluh malam, Vika merasa lapar. Aku pergi ke gerbong restorasi, memesan mie goreng telur plus nasi untuk Vika dan juga yang tanpa nasi untukku. Hehehe…
Cukup lama sampai akhirnya makanan pesanan kami datang.

Setelah makan, kami pun tidur.
Sekitar pukul 4 pagi, selimut para penumpang diambil kembali oleh para pramugari kereta. Hal ini mungkin dimaksudkan agar para penumpang terbangun dan terjaga karena kereta akan segera sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta.
Kemudian kami, para penumpang, disuguhkan masing-masing secangkir teh hangat, yang harus segera diminum dan cangkirnya akan ditarik kembali. Pelayanan macam apa ini?!

Kami sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta sekitar pukul 5 pagi,
aku, yang sudah mulai tertidur kembali, dibangunkan oleh Vika.
Barang-barang kami raih, kemudian turun dan mencari taksi.
Kami mendapat sebuah taksi plat hitam berbentuk Suzuki Carry dengan tarif borongan 50.000 rupiah.
Taksi mengantar Vika terlebih dahulu, baru aku kemudian.
Sekitar pukul setengah enam pagi aku tiba di kost…

Terima kasih…
untuk si Om (Kaban), atas keterbukaannya menerimaku, juga tes mentalnya,
untuk Kak Tua (Felis), atas sedikit obrolannya di Monas,
untuk Jesy, atas pengalaman macet saat jalan-jalan ke pantai,
untuk Aris, atas serunya main kartu sambil nonton film horor,
untuk Bibi (Juni), atas sarapan, makan siang dan makan malamnya,
untuk Om Gustin, atas boncengannya saat malam tahun baru,
untuk ‘Ni (Feni), atas keramahannya,
untuk Ijil, atas 3 bungkus roti nya,
untuk Bang Putra, atas waktu, obrolan-obrolan dan rokok Marlboro-nya,
untuk Om Willem, atas obrolan malam di teras rumah,
untuk Epi, atas sapaan-sapaannya,
untuk Ricky, atas Coca Cola nya,
untuk Bang Abrian, atas obrolannya sepulang dari rumah para mama,
untuk Bang Frans, atas obrolannya sebelum tidur,
untuk Stephen, atas kebersamaannya dengan Aris.

Terima kasih yang teristimewa untuk Veronika Kaban (Vika, Bun), atas cinta dan kasihnya, juga omelan-omelannya.

Terakhir, mohon maaf jika ada kesalahan penulisan, juga mungkin ketidaksesuaian dengan keadaan sebenarnya, baik kurang mendetil ataupun terlalu mendetil…
Ini hanyalah sebuah tulisan untuk blog, sebagai karya biasa, sebagai pengingat perjalanan.

.terima kasih sudah menyempatkan membaca.

GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s