Di Bawah Bulan Kita Menari

“Kutuliskan sebuah crita cinta segitiga, dimana akulah yang jadi peran utama…”

Sepenggal lirik dari lagu Lelaki Cadangan (atau dlm bahasa Inggris ‘Substitute Guy’) yang dinyanyikan oleh T2 menginspirasi saya untuk menulis suatu kisah nyata tapi dusta ini:

Meylan, begitulah namanya, adalah seorang gadis keturunan Tionghoa yang cantik jelita. Ia tinggal di kota Bandung dan berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung, sebut saja Universitas Bandung Lautan Asmara (UBLA).
Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, sungguh sudah sangat banyak pria seantero jagad raya yang berhasrat menikahinya (hasrat doank, cinte mah kagak – lho lho lho?)
tetapi seperti yang sudah diduga dan diramalkan oleh Mama Lauren, Meylan menolak mentah-mentah semuanya, sementah buah mangga yang belom mateng, asem-asem kecut piye gitu deh ah…

Meylan masih ingin menikmati masa mudanya yang terbentang jauh ke depan. Namun tentu dia tak menutup diri dari kemungkinan adanya pangeran cinta (huuueeekkkzz!!!) yang memikat hatinya (cuuuhhh!!)
hahhahahaha….

Suatu ketika di sore hari yang konyol, Meylan dan adiknya, Cut Memey, sedang makan batagor di depan Gedung Sate (Gedung peninggalan Belanda yang di atap kubah utamanya terdapat tiang pancang yang berbentuk seperti sate telor puyuh).
Anda pasti bertanya-tanya, “Sore hari yang konyol?kok bisa?kenapa?ada apakah gerangan?”

Sesungguhnya, ‘konyol’ adalah satu kata yang paling relevan dan aman untuk melengkapi penggambaran keadaan sore itu. Bayangin deh, kalo dalam kata ‘konyol’ itu ada satu huruf yang diganti dengan huruf T…jadi tonyol misalnya…atau konyot, atau kotyol. Gimana coba!?asik kan?ya kan ya deh ya…

Lanjut ke cerita tadi…
Saat sedang asik-asiknya menyantap batagor khas Bandung tiba-tiba datang satu kompi Satpol PP (Satuan Polisi PemPek) yang menggaruk/merazia para pedagang kaki lima yang berjualan disitu. Razia tersebut berlangsung luar biasa cepat, hanya dalam waktu 3 menit!Unbelievable!
Dari antara mereka yang terjaring atau maksud saya terkena atau menjadi korban razia antara lain pedagang cumi-cumi kaki lima, pedagang sop kaki lima kambing dan pedagang larutan penyegar cap kaki lima serta si Cut Memey…
aaaahhh…apa yang terjadiiii!!??
Meylan hanya melambaikan tangan pasrah dan tanpa ekspresi saat adiknya yang bahenol itu diangkut Satpol PP. Saking shock-nya, Meylan sempat berdiri terdiam cukup lama, sekitar 15 menit. Sampai-sampai celananya sudah basah dan bau pesing tanpa ia sadari. Yang dia sadari hanyalah Tompi…Sadari Dulu…

Singkat cerita, Meylan harus menjemput adiknya, Cut Memey, di kantor Dinas Sosial Kota Bandung. Setelah mengurus segala tetek bengek urusan administrasi untuk membawa adiknya (yang memang agak kepecun-pecunan) pulang, Meylan sempat berkenalan dengan salah satu anggota Satpol PP yang kebetulan sangat membantu proses keluarnya si Cut Memey. Orangnya tinggi, berkulit kuning langsat, gantengnya beda tipis sama saya, badannya kekar atletis, dan anunya kecil…ehem…
maksudnya kakinya.
Wagh…kayak gorila dunk!?ahahhaahha…

Cowo itu namanya Ariel Peterpan.
Yup, namanya memang bener-bener asli dari akte kelahiran, A-R-I-E-L P-E-T-E-R-P-A-N.
Dahulu kala, sekitar tahun 1980, saat ibunya sedang mengandung dirinya, sang ayah mendapat penglihatan masa depan, bahwa di masa depan akan ada seorang lelaki tampan yang biasa dipanggil ‘Ariel Peterpan’ dan dikagumi banyak wanita serta ketenarannya bergema sampai…pai…pai…ke ujung…jung…jung…dunia…dunia…dunia…
Nah, dari penglihatan itulah, sang ayah merasa bahwa ia harus menamai anaknya ‘Ariel Peterpan’.
Namun apa mau dikata, takdir berkata lain, ternyata kini Ariel Peterpan yang sesungguhnya bukanlah anaknya.

Sempat saling berpandangan cukup lama, ehemm…sekitar 30 detik…sepertinya Meylan dan Ariel telah terpanah asmara pada pandangan 30 detik.
Love at the 30th second sight…

Lalu Meylan dan Cut Memey pun pulang, dan Ariel kembali menggusur rumah-rumah semi permanen di bantaran Kali Cibeudeunyi.

Berbulan-bulan mereka tidak berjumpa lagi, tapi sebenarnya keduanya sangat rindu dan ingin bertemu. Tentu saja Meylan tidak mungkin datang lagi ke kantor kang Ariel, mao ditaroh dimana muka dia?comberan?
Sedangkan Ariel pun tak tau bagaimana caranya menghubungi Meylan, masa’ iya dia harus merazia setiap pedagang batagor setiap hari?
Nah, pembaca yang setia, tak dinyana tak disangka, sungguh beruntunglah Ariel. Saat sedang membuka-buka buku laporan razia, dia tak sengaja menemukan nomer kontak neng geulis Meylan, nomer XL Bebas 081992348568 (apa coba!!??)

Malam harinya, setelah lelah bekerja, Ariel mencoba meng-SMS Meylan.

“Halo, pa kbr Meylan?

-Ariel Peterpan-“

Satu menit kemudian…

“Baik-baik aja, km gmn?
tp ak bukan meylan, ak mbok ijah, asisten rumah tangganya.No nya neng meylan 081907133890
hehehe…ihiiiyyy…”

Sial…kata Ariel dalam hati.
Lalu di-SMS lah lagi nomer yang diberikan mbok Ijah.
5 menit kemudian, dibalaslah SMS itu.

Kenapa 5 menit?
menit 1, Meylan teriak-teriak kegirangan.
menit 2, mikir mo bales gimana.
menit 3, ngetik SMS.
menit 4, mikir lagi, hapus lagi, ketik lagi.
menit 5, baca ulang sambil senyum-senyum sendiri + send message

Dan semalam-malaman itu mereka saling ber-SMS ria enes. Sebenernya si Ariel pengen nelpon, tapi dia ga’ brani, bingung mo’ ngomong apa. Dasar cupu.
Si Meylan sejatinya juga pengennya telpon-telponan, tapi masa’ dia yang telpon duluan?
mao ditaroh dimana muka dia?comberan? (lagi lagi comberan)
Dasar gengsi gede-gedean si Meylan. huuu….

Setelah beberapa hari aktif SMS-an dan sesekali telpon-telponan (akhirnya), mereka sepakat untuk ketemuan…

Tepat di sebuah malam minggu yang dingin, setelah masing-masing berdandan cukup lama, rata-rata 2 jam, mereka sepakat bertemu di sebuah kafe di bilangan Dago. Di sebuah kafe milik artis bencong Tata Dago.
Kafe itu namanya “Di Bawah Bulan Kita Menari”

Sebelum pukul 7, Ariel sengaja datang lebih dulu karena tak ingin terlambat dan untuk menjaga kredibilitasnya sebagai seorang pria. Halah opo??!!

yak segitu saja ceritanya, saya sudah kehabisan ide dan malas melanjutkan.
sekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s