17 Pagi

Rembulan belum juga gemilang sinarnya
belum secerah wajah seorang wanita yang menatap kekasihnya dengan ceria
Awan-awan baru saja kembali dari tugasnya mengantar senja pergi
dan kereta-kereta bersiap membawa tuannya beranjak lalu
Angin-angin perlahan seperti menyapu jalanan dari tetes peluh yang tertinggal seharian
dari tubuh-tubuh yang terpaku lelah dalam dunianya
saat kubawa dirimu pergi…
berlalu menerobos deru kota yang menggigil pucat pasi

Lalu di bawah alam yang berkaca-kaca indah kau berkisah
tentang hidupmu yang pahit dulu
Sesekali kau membawakannya dengan bunga-bunga tawa…
yang membuat kumbang-kumbang bergetar nyalinya
meskipun di matamu terlihat jelas kau tak mungkin berdamai dengan tawa itu
dan hatimu sungguh layu
dengan bayang-bayang pilu itu

Lalu terhujatlah malam yang menyapa terlalu dingin
dan sekali lagi kita menantangnya
saat kubawa dirimu pulang…

(untuknya yang keempat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s