Bola Kaki Dari Plastik

…bola kaki dari plastik
ditendang mampir ke langit
pecahlah sudah kaca jendela hati
sebab terkena bola tentu bukan salah mereka…

Masa kecil saya habiskan di pinggiran kota, di tempat anak-anak seusia saya juga tumbuh, bersama adik laki-laki dan adik perempuan saya. Saya cukup beruntung lahir dan dibesarkan di era 90-an, dimana gadget dan segala kecanggihan teknologi belum jadi cerita. Orang tua kami memiliki rumah dengan halaman yang cukup luas untuk langkah kecil lari kami anak-anaknya, dihiasi berbagai tumbuhan dan tanaman, kolam kecil dan pepohonan.

Tepat di depan rumah kami adalah tanah lapang yang sedikit berbatu, berukuran sekitar 50 x 30 meter; di sebagian sisinya masih terhampar semak berduri dan ceceran sampah rumah tangga bercampur pecahan kaca / beling serta paku; di sisi yang lain akan ditumbuhi sedikit rumput Jepang apabila musim penghujan tiba; dan di tengah tanah lapang itu tumbuh pohon melinjo / tangkil dengan tinggi 6-7 meter yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Sisi utara tanah lapang berbatasan langsung dengan rumah kami, sisi timur dibatasi tembok setinggi 3 meter yang menutup halaman belakang rumah tetangga, sedangkan sisi selatan dan barat dikelilingi pondasi kecil yang berbatasan dengan jalan kampung dan halaman belakang suatu bedeng / rumah kontrakan deret dari bilik bambu.

Di sekitar rumah kami memang terdapat banyak rumah bedeng, dari yang sempit sederhana sampai yang cukup kokoh dan bersih. Rumah-rumah bedeng itu dihuni oleh keluarga-keluarga muda dari berbagai latar belakang profesi; dari penjual mie ayam keliling, sopir travel, tukang bangunan, dan bahkan guru olahraga SD saya pun sempat tinggal di salah satu rumah bedeng tersebut. Saya tumbuh bersama teman-teman kampung yang sebagian besar berasal dari keluarga di rumah-rumah bedeng tersebut.

Agus, Beni, Asih dan satu lagi adik bayinya adalah empat bersaudara yang tinggal di rumah bedeng samping tanah lapang. Ibu mereka bernama Kamisah seorang buruh cuci harian, dan ayah seorang penjual mie ayam keliling. Saya pernah masuk ke rumah mereka, baunya luar biasa pesing menyengat, mungkin berasal dari ompol si adik bayi.

Agus adalah anak yang cukup nakal. Pernah suatu ketika, dia dan teman-temannya mencegat saya dan Tono, saudara sepupu saya, sekitar 50 meter dari rumah untuk meminta uang / memalak Tono. Waktu itu saya pikir mereka hanya bercanda ingin mengerjai Tono, karena saya sudah mengenal mereka. Tetapi Tono yang belum mengenal mereka mencoba melawan dengan memasang kuda-kuda ala beladiri Kempo, Tono memang mengikuti ekstrakulikuler beladiri Kempo di sekolah. Agus melayangkan satu tendangan tinggi mengarah tepat ke pipi Tono. Plak! Selesai. Kami pun membatalkan niat pergi jajan ke warung. Hormat saya untuk Tono atas keberaniannya saat itu.

Beni lebih santai dan lucu, dia suka bercanda, walau kadang songong juga. Beni mengidolakan pesepakbola Brasil Ronaldo yang saat itu sedang sakti-saktinya. Secara fisik, Beni lebih mirip Ronaldinho yang waktu itu belum eksis di persepakbolaan dunia. Giginya tonggos, suka tersenyum dan tertawa.

Asih adik perempuan mereka cerewetnya bukan main. Saya suka membandingkannya mirip dengan tokoh Consuelo dalam telenovela Maria Celeste kalau tidak salah, yang sedang booming waktu itu. Saya pernah bertengkar dengannya di pekarangan samping rumah, entah soal apa. Saya menyerah pada cerewet dan kengototannya waktu itu.

Di rumah bedeng yang sama tinggal pula keluarga salah satu teman bernama Seno. Ibunya seorang single parent. Keluarga ini baru pindah belakangan di era kami bermain, sehingga Seno semacam “anak baru” di lingkungan kami. Seno memiliki kakak laki-laki yang telah beranjak dewasa, kakak perempuan bernama Leha yang genit dan cukup seksi, serta adik balita laki-laki bernama Rizki.

Kakak laki-laki Seno kadang ikut bermain bersama kami, sembari menjaga Rizki. Sedangkan Leha, saya suka mencuri-curi pandang saat dia selesai mandi, karena halaman belakang rumah bedeng mereka memang terbuka. Seno teman yang murah senyum dan lebih sering disibukkan menjaga Rizki.

Masih di rumah bedeng yang sama, tinggal keluarga Devi, si anak bisu yang kepercayaan dirinya luar biasa. Devi sama sekali tidak malu atau minder menjadi bahan olokan kami. Ayahnya seorang sopir angkot. Devi memiliki adik laki-laki yang sedikit lebih tua dari Rizki. Kalau saya tidak salah, keluarga Seno dan keluarga Devi masih memiliki hubungan kerabat. Dalam pergaulan kami, teman-teman sering sekali menjodoh-jodohkan Devi dengan saya, entah dari mana ujung pangkalnya. Gawatnya, Devi meresponnya dengan malu-malu tapi mau. Lucu ya.

Di rumah bedeng seberang jalan depan rumah, tinggal teman kami bernama Wiwid, laki-laki. Ayahnya seorang pegawai PT. Kereta Api. Wiwid mempunyai adik balita perempuan yang gemuk dan lucu sekali, saya tak ingat namanya. Wiwid termasuk teman yang tak terlalu sering bermain bersama kami, tetapi biasanya dia tetap bisa langsung membaur setelah lama tak terlihat. Wiwid tipikal anak baik-baik dan polos yang kadang juga keras, tak jarang berselisih dengan salah satu dari kami.

Anto dan Usman dua kakak beradik yang tinggal di rumah bedeng belakang rumah kami. Keduanya sering berjualan pempek keliling untuk membantu orang tua membayar biaya sekolah. Luar biasa ya. Yoo…pempek goreengg… sambil membawa keranjang berisi pempek, cuka dan mangkuk kecil dari plastik pada siang hari atau sore sepulang sekolah. Saya sering membeli pempek mereka karena cukanya pedas dan terasa nikmat, apalagi jika disantap beramai-ramai, tapi membuat gigi terasa ngilu bila terlalu banyak memakannya.
Anto dan Usman dalam pikiran saya waktu itu mirip dengan duo komedian Jimmy Gideon dan Sion Gideon, sama-sama gempal, kocak, tapi sederhana.
Saya pernah bermain ke pemukiman rumah bedeng mereka di belakang, seorang pria bertanya pada saya “Lu anak orang kaya kok main-main sampe kesini?” sambil tersenyum. Saya agak kaget dan merasa dibedakan dengan anak-anak lainnya. Saya tak ingat jawaban saya pada waktu itu, tetapi setelah itu saya baru menyadari bahwa seperti itulah keluarga mereka memandang keluarga kami, seperti itulah orang dewasa membangun sendiri tembok pemisah satu dengan lainnya.

Bergeser ke pemukiman samping rumah, tinggal keluarga seorang teman bernama Dede, bukan di rumah bedeng. Dede adalah salah satu cucu pak haji yang terkenal di kampung kami. Ibunya membuka sebuah warung yang menjual kebutuhan masak-memasak, sayur, lauk dan segala macamnya. Ibu saya sering meminta saya membeli bahan makanan di warung itu, warung Teh Jum. Jumairoh, Jumaidah, atau Juminten mungkin nama ibunya. Sedikit dari yang saya tahu, Dede mempunyai seorang kakak laki-laki yang telah beranjak remaja dan tidak termasuk dalam kumpulan bermain kami.
Dede hampir selalu memakai kaos kaki putih panjang dikombinasi sandal jepit atau selop hotel saat bermain. Entah apa yang ada di pikirannya.

Ada juga teman yang cukup sering bermain bersama kami, namanya Agus Buduk, dipanggil begitu karena kakinya penuh bercak bekas luka koreng dengan tekstur kulit sangat kering. Agus Buduk bertubuh mungil tetapi berani dan tengil, tidak semua teman menyukainya. Saya tak tahu pasti dia tinggal dimana. Saya hanya ingat pernah mengajak dia berkelahi karena mengkasari saya saat kami sedang bermain sepakbola.

Satu lagi bernama Pani, juga biasa dipanggil Panu. Saya juga tak ingat dia tinggal dimana, yang jelas di pemukiman rumah bedeng belakang. Wajahnya adalah versi kecil dari almarhum pelawak Bagyo yang berjaya tahun 70-an. Bagi saya, Pani ini teman yang sangat menghibur hanya dengan ekspresi wajahnya.

Terakhir, kalau tidak salah dia adalah saudara kandung Pani, namanya pun saya lupa-lupa ingat, sebut saja Epi. Dia berkulit coklat gelap dengan gaya bicara ngotot. Tak banyak yang saya ingat darinya. Maafkan saya Epi.

Setiap siang menjelang sore, mereka berdatangan satu persatu ke tanah lapang depan rumah. Kami bermain apa saja; maling-malingan (berlari kejar-kejaran polisi penjahat), kelereng, pletokan (tembak-tembakan dari bambu kecil), tepok wayang, benteng, gobak sodor dan yang paling sering sepakbola. Permainan sepakbola ini selalu membuat keki tetangga depan rumah seberang tanah lapang, Bu Sis namanya. Beliau memang terkenal galak, apalagi jika bola kami masuk ke halaman rumahnya. Bu Sis we hate youuuu! Hahaa

Teman-teman membuat dua gawang dari bilah-bilah bambu yang dirangkai dengan tali rafia, satu di sisi dekat tembok tetangga sebelah timur, dan satu di sisi barat diikatkan ke pohon tangkil sebagai salah satu tiang gawang. Lapangan pertandingan kami mungkin hanya seluas lapangan futsal, dengan kombinasi bebatuan dan semak berduri. Garis lapangan hanya berlaku di sisi selatan dan kedua sisi gawang. Bola kaki dari plastik biasanya kami beli secara patungan atau salah satu dari kami sudah membeli dan membawanya.

Hampir setiap sore saya dan Ruben adik laki-laki saya ikut bermain. Kadang hanya empat lawan empat atau lima lawan lima, seadanya yang datang saja. Tak jarang pula anak-anak yang bukan dari kumpulan kami ikut bergabung bermain, sehingga lapangan menjadi penuh dan ramai. Kalau sudah begitu biasanya kami bisa melakukan substitusi / pergantian pemain. Pertandingan akan berakhir saat Maghrib, atau hujan petir, atau jika kekurangan pemain yang sangat ekstrim, misal hanya tersisa empat orang di lapangan.

Pertandingan sepakbola menjadi lebih menggairahkan menjelang Piala Dunia 1998. Sampai-sampai ada yang melukis logo World Cup 1998 France dengan cat putih di tembok tetangga sisi timur lapangan. Kami memiliki tim jagoan dan pemain favorit masing-masing. Saya menjagokan Italia dan pemain favorit saya Christian Vieri. Menyenangkan sekali.
Saat Piala Dunia berlangsung dan setelahnya nama Perancis dan Zinedine Zidane lah yang menjadi harum di kalangan kami.

Tahun demi tahun berlalu, kami beranjak remaja. Pertandingan sepakbola mulai jarang dimainkan, para pemain mulai menghilang; ada yang sibuk dengan urusan sekolah, membantu orang tua, atau pindah rumah. Memasuki masa Sekolah Menengah Pertama (SMP) kami tak pernah lagi bermain bersama, hingga akhirnya saya meneruskan studi Sekolah Menengah Atas (SMA) di Yogyakarta.
Bapak saya pun memutuskan membangun pagar tembok mengelilingi lapangan yang secara tak langsung memperkecil akses teman-teman bermain di lapangan. Semak-semak mulai dibersihkan, digantikan tanaman hias agar tampak rapi. Dibuat juga jalan paving blok melintang di lapangan, sebagai akses mobil keluarga kami melintas.

Bertahun-tahun kemudian, saya sempat bertemu Agus Buduk dan Usman di waktu dan tempat terpisah, keduanya sama-sama menjadi kernet bus Damri jurusan Gambir – Tanjung Karang. Teman-teman kampung yang lain, entah kemana kehidupan telah membawa mereka. Semoga semuanya baik dan hidup berkecukupan.

Agus, Beni, Asih, Seno, Devi, Leha, Anto, Usman, Pani, Epi, Dede, Wiwid, Rizki, Agus Buduk, dan teman-teman lain yang terlupakan, terimakasih.

Rantang

Matahari yang sama belasan tahun lalu
Kita asyik berenang
Ban besar tak telanjang

Sungguh senang
Sekali – sekali berdiri di atas karang
Kepiting kecil air mulai pasang
Ibu memanggil pulang

Santapan nikmat dari dalam rantang
di pantai tak gelombang

Matahari yang sama sore tadi
Bawa aku pulang

Prakasita

Kau purnama
pecah langit semalam-malaman
lawan kekelaman

Kau catatan dari kisah antah-berantah
yang jalan ceritanya berakhir entah

Kita hanya angan
di sela lalu lalang kendaraan

Kau memang purnama
kembalinya waktu tak sama

Joni dan Ratih [Sebuah Awal Dan Akhir]

…the best thing about tonight’s that we’re not fighting
could it be that we have been this way before
I know you don’t think that I am trying
I know you’re wearing thin down to the core

but hold your breath
because tonight will be the night that I will fall for you
over again
don’t make me change my mind
or I wont live to see another day
I swear it’s true
because a girl like you is impossible to find
you’re impossible to find

this is not what I intended
I always swore to you I’d never fall apart
you always thought that I was stronger
I may have failed but I have loved you from the start

so breathe in so deep
breathe me in
I’m yours to keep
and hold onto your words
’cause talk is cheap
and remember me tonight
when you’re asleep…

Malam menjelang tidur, Joni mendengarkan lagu itu lewat pemutar musik Blackberry-nya. Sambil sesekali ikut menyanyikannya, pikiran Joni melayang jauh ke masa lalu. Ya, masa lalu yang indah, saat Joni dan Ratih masih bersama.

“Ah…masa lalu yang indah, seindah body-nya Zaskia Gotik…” sesal Joni.

Joni pertama kali melihat Ratih saat masa Ospek, mereka sama – sama mahasiswa baru. Joni dan Ratih berbeda kelompok Ospek, dan tidak ada sesuatu yang aneh antara dirinya dan Ratih, karena sepertinya Joni masih menggalau dengan kisah cinta masa SMA-nya. Pada sesi bebas saat panitia Ospek mementaskan sebuah sandiwara, tanpa disengaja Joni dan Ratih duduk bersebelahan. Joni diam saja, sok jaim dan sok ganteng, hingga tiba-tiba Ratih menawarkan sebungkus permen mint. Joni menerima permen itu sambil mengucapkan terima kasih, kegantengannya runtuh seketika. Berkenalan bukanlah sesuatu yang penting saat itu, mengingat adanya papan nama (name tag) yang dengan jelas menunjukkan nama masing – masing. Ratih menawarkan permen dengan wajah santai tanpa senyum, namun Joni melihat ada sesuatu yang spesial dalam diri Ratih. Ada kecantikan tersembunyi dalam penampilan Ratih yang biasa saja dan tak menarik perhatian. Momen itu terekam jelas dalam ingatan Joni, ia tak pernah lupa.

—–
“Jon, ayo ke kantin, ny-unrise dulu kita bro…” ajak seorang teman. (Sunrise: vodka + greensands + kratingdaeng)

Joni berlalu, meninggalkan Ratih dari pandangannya, menyimpan kembali momen masa Ospek dalam lemari ingatannya, lalu lanjut minum oplosan. Dasar Joni laknat.

Seiring waktu, keduanya melanjutkan kehidupan dan kisah cinta masing – masing. Masa kuliah tak pernah mempertemukan mereka meski hanya untuk berbincang ringan atau bersenda gurau seperti teman – teman lainnya. Sesekali Joni memperhatikan Ratih dari jauh, sambil lalu saja, kadang hanya lewat sudut mata.

Kisah cinta Joni selepas SMA tak pernah berjalan mulus, selalu gagal dan berakhir tanpa catatan manis. Joni pernah dekat dengan seorang gadis, tetapi Joni melepasnya karena merasa tak memiliki hati yang cukup untuknya. Joni kembali merajut cinta dengan kekasihnya semasa SMA, tapi tak lama, cinta itu memang ditakdirkan untuk kandas. Sempat pula Joni jatuh hati pada seorang gadis kampus, bukan Ratih, namun isi hatinya tak pernah terungkapkan, mungkin karena Joni terlalu banyak minum oplosan. Sempat pula Joni terlibat kisah cinta rumit dengan gadis kampus sebelah, penuh intrik dan tak jelas ujung pangkalnya. Semua kisah cinta itu menguap dan menjadi pelajaran pendewasaan bagi dirinya. Tapi sekali lagi, Joni tak pernah lupa, tak pernah bisa.

—–
Ratih membuka ponselnya, mengetik pesan singkat dan mengirimnya ke nomor – nomor yang ada di phonebook, kepada teman – teman kampus, teman gereja dan teman komunitas lainnya. Pesan berisi penawaran pembuatan cokelat spesial hari Valentine yang dapat dikirimkan langsung ke tempat tujuan. Ratih dan beberapa teman berinisiatif membuka usaha pembuatan cokelat yang jumlah dan bentuknya dapat dipesan sesuai permintaan menjelang hari Valentine.

Ketika itu Ratih baru beberapa bulan putus dari kekasihnya. Kisah cinta Ratih lebih berwarna, kalau tak boleh dibilang tragis. Masa SMA dijalani Ratih dengan normal layaknya remaja lainnya, tentu juga dibumbui kisah cinta yang harus berakhir seiring fase baru kehidupan: masuk universitas. Memasuki masa kuliah, Ratih menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang tak menghargai dan menghormati Ratih sebagai perempuan, bahkan membuatnya depresi. Ratih sempat dekat dengan beberapa lelaki yang hanya berlalu dan tak berhasil menaklukkan hatinya. Ratih sosok yang aktif dan bersemangat, selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus dan luar kampus, termasuk bekerja sambilan. Terakhir, Ratih merangkai kasih dengan lelaki satu kampus, harus berakhir karena terlalu banyak permasalahan dan rasa sakit yang harus diterima, bahkan terlalu menyakitkan untuk diungkap disini. (helehh…)

Ratih kembali jatuh, lama dan dalam untuk bangkit melangkah lagi.

—–
Malam belum berumur panjang, Joni hendak beranjak untuk mandi saat tiba – tiba terdengar suara:

cukicakicukicakicuuukk… cukicakicukicakicuuukk… cukicakicukicakicuuukk…

Ringtone ponsel Joni berbunyi, ada pesan singkat masuk dari nomor tidak dikenal. Joni segera membukanya, isinya tentang penawaran pembuatan cokelat spesial hari Valentine yang dapat dikirimkan langsung ke tempat tujuan. Joni tak tertarik, tetapi karena penasaran, Joni membalasnya:

- Maaf, ini siapa ya? Tau nomer saya dari mana? Thx.

Tak berapa lama pesan singkat itu berbalas, Joni menunda mandinya.

- Ini Ratih. Ayooo pesen cokelatnya buat Valentine, buat pacarnya atau gebetannya, bisa dikirim langsung kerumahnya lho. :)

Joni semakin menunda mandinya, masih penasaran dan malah curhat. Rendah sekali.

- Oohh…hehehehe ak mo ngirimi siapa coba, utk sementara valentine taun ini ga ada yg ak kirimi coklat. Hahaha.. Btw km tau nomerku darimana? hehehe..

Joni jadi agak sumringah dan berharap pesan singkat-nya segera dibalas.

- Ga tau, emang udah ada aja di phonebookku. Ya udah km pesen coklat trus kirim buat ak ajaa. Hahahaha…

Begitulah pesan singkat itu mengalir dan seterusnya, dan seterusnya.

Empat tahun berlalu sejak Joni dan Ratih resmi menjadi mahasiswa, mereka sudah jarang terlihat di kampus, begitu pun dengan teman – teman satu angkatan. Hari – hari tetap berjalan seperti biasa, tapi Joni tak pernah lupa, dia masih mengingatnya.

Sesekali Joni dan Ratih berkirim pesan singkat, tidak setiap hari, hanya untuk saling menyapa atau sekedar curcol. Joni dan Ratih sama – sama belum mau membuka hati untuk suatu hubungan baru, mereka ingin menjalani saja apa yang ada. Sekitar 3 (tiga) bulan lamanya Joni dan Ratih berkomunikasi lewat pesan singkat tanpa sekalipun bertemu. Penghargaan nobel tertinggi harus diberikan kepada penemu pesan singkat karena hanya lewat pesan singkat Joni dan Ratih menjadi semakin akrab. Hingga pada suatu sore berkat dorongan dari seorang sahabat, Joni memberanikan diri untuk mengajak Ratih bertemu. Modusnya, Joni ingin membawakan camilan kesukaan Ratih yang selama beberapa hari terakhir menjadi topik perbincangan mereka di pesan singkat. Bisa aja si Joni. Akhirnya disepakati Joni dan Ratih bertemu di kampus, kebetulan Ratih sedang bertugas jaga laboratorium kampus.

—–
Setelah mandi dan wangi, mencukur kumis dan jenggot, berdandan kasual tapi tetap keren, Joni berangkat ke kampus. Berbekal camilan modus yang dibeli di mini-market terdekat, Joni memarkirkan sepeda motornya tepat di depan tangga selasar kampus. Pesan singkat dikirim kepada Ratih untuk mengabarkan agar Ratih segera menuju ke TKP (Tempat Ketemuan Pertama).

- Neng, abang udah sampe nih bawa cemilan kesukaan eneng.

- Asikk, tunggu ya bang.

Ya, ini adalah pertemuan pertama mereka sejak bertahun – tahun tak saling menyapa, tak sempat saling mengenal.

Kebetulan di dekat tangga itu ada sebuah meja kayu dan dua bangku berhadapan, tempat biasa satpam kampus duduk. Joni duduk menunggu sambil mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak lama, Ratih turun dari tangga, Joni berdebar hatinya. Ratih muncul dengan pakaian santai: T-shirt, celana pendek dan sandal jepit. Perbincangan berlangsung singkat dan kaku, tak serenyah percakapan mereka melalui pesan singkat. Maklum, keduanya sama – sama terlalu lama tak dijamah belaian lawan jenis, canggung berat. Keduanya mengakhiri percakapan setelah Joni memberikan camilan kesukaan Ratih. Pertemuan itu berlangsung tak lebih dari 15 (lima belas) menit.

—–
Malam – malam bulan jatuh ke pangkuan, langit membukakan jalan. Joni dan Ratih makin sering bertemu, dengan berbagai modus tentunya, biasanya dengan alasan untuk membawakan camilan kepada Ratih. Sempat pula mereka berjalan – jalan ke tempat bintang – bintang seolah dapat digapai, ke tempat lautan seakan terseberangi, ke tempat kisah antah berantah menjadi terjelaskan. Mereka saling melengkapi, saling menemani. Joni dan Ratih semakin hangat.

Tiba saatnya Ratih menanyakan kejelasan hubungan pada Joni yang sama sekali tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Sinyal positif, green light dan Joni sangat bahagia mendengarnya, namun pertanyaan itu telah mengguncang Joni sebagai seorang laki – laki dan semua rencananya berantakan. Joni shock. Joni menjawab seadanya dengan sok bijak dan sedikit ngeles. Jawaban Joni memang seperti yang diharapkan Ratih, tapi Ratih kurang puas dan merasa masih ada yang mengganjal. Joni mempercepat dan menyegerakan semua rencananya. Terjadilah drama “penembakan” selama 3 (tiga) hari yang menyita hati dan pikiran Joni.

Baru pada hari ketiga Joni bangkit dari antara orang mati. Seperti biasa, Joni dan Ratih mengikuti misa harian sore di gereja. Sebelum menjemput Ratih untuk pergi ke gereja, Joni menyiapkan sekuntum mawar merah untuk memuluskan rencananya. Sepanjang perjalanan hingga akhir misa, Joni menyembunyikan mawar itu di saku jaket bagian dalam. Ratih memejamkan mata untuk doa penutup, Joni dengan hati – hati meletakkan mawar merah itu tepat di samping Ratih, di antara mereka berdua. Saat Ratih membuka mata, ia mendapati mawar itu dan meraihnya. Joni kembali menyatakan cintanya, mata Ratih berbinar bahagia, senyum tak lepas dari wajah cantiknya.

Ratih tak langsung secara eksplisit menjawab pernyataan cinta dari Joni, tapi Joni sudah tahu jawabannya, dan ia tak memerlukan itu. Yang Joni perlukan adalah Ratih selalu bahagia dan dapat lebih bahagia lagi, apapun yang diimpikannya, bersama atau tidak bersamanya. Keesokan paginya saat matahari baru tiba dari perantauan, Ratih menjawab pernyataan cinta Joni. Pagi itu mereka menapak tahapan baru, meski sesungguhnya telah menjadi sepasang kekasih lama sebelum itu.

—–
Sejak awal Joni tak pernah lupa, memang ada sesuatu yang spesial dalam diri Ratih. Kepribadian Ratih sederhana, namun penuh semangat dan ambisi, ia tak pernah bisa hanya duduk berdiam diri, ia terus berlari. Kehidupan telah menempanya menjadi seorang gadis yang memiliki kemauan keras menggapai semua mimpinya. Ratih dengan sendirinya menularkan semangat pada Joni yang memang dasarnya pemalas. Joni belajar banyak dari kehidupan Ratih, dan mulai menata hidupnya lagi. Masa – masa awal Joni dan Ratih memadu kasih, banyak cobaan datang menghampiri, kesalahpahaman jadi bumbu cerita perjalanan, kehidupan mengajarkan mereka menjadi lebih dewasa. Joni dan Ratih memang bukan pasangan sempurna, tapi mereka mantap melangkahkan kaki bersama.

Tujuh bulan yang indah dan penuh warna sejak Joni dan Ratih resmi memadu kasih, namun Ratih harus kembali ke kota asalnya karena telah menyelesaikan studinya. Ratih hendak merangkai cita – cita disana, sekaligus membantu orang tua menjaga adik – adiknya. Joni melepasnya dengan berat hati, dengan doa dan dukungan agar semua yang diimpikan Ratih dapat segera tercapai. Joni dan Ratih melanjutkan kisahnya, terpisah ratusan kilometer jauhnya. Sesekali jika ada kesempatan, Joni dan Ratih saling bertemu, saling mengunjungi, mengisi baterai semangat yang habis dikikis rindu.

—–
Jarak memang menjadi salah satu hambatan saat itu, selain studi Joni yang tak kunjung selesai. Ratih mulai lelah, tak sanggup menahan kesendirian, ternyata hidup memang jauh berbeda. Sembilan bulan lamanya Ratih bertahan, ia tak kuat juga. Ratih menemui Joni, berderai air mata, meminta mengakhiri semuanya. Joni tak kuasa menahan keinginan Ratih, ia terlalu menyayanginya.

…di sisi jendela kereta yang mulai perlahan melaju
meninggalkan panas kotamu
ku diam terpaku saat kereta tlah melaju kencang dan menjauh
dan Monas pun menghilang dari pandangan mata

wangi yang biasa kaupakai masih melekat
seraya menemani langkahku pulang
langit pun mulai menghitam
sejenak ku terlelap mimpikan semua
dan kau hadir hiasi semua mimpi
namun tak seperti yang kuharapkan
sekejap semua berubah cepat
menusuk hati terdalam

dan kau buyarkan
buyarkan semua yang telah terjadi
dan tak ada waktu ‘tuk berpikir
kembalilah
kembalilah seperti apa adanya
jangan berakhir seperti ini
seperti ini…

Tak sampai 1 (satu) bulan sejak Joni dan Ratih sepakat berpisah, mereka bertemu kembali, hati Joni dan Ratih sesungguhnya tak pernah ingin berpisah. Joni dan Ratih melanjutkan kisah. Joni menyadari betul ini kesempatan kedua baginya, dan bagi Ratih ini akan menjadi kesempatan terakhir yang diberikannya untuk Joni.

—–
Bulan demi bulan berlalu, beberapa kali mereka masih menyempatkan bertemu, love is still in the air, namun Ratih mulai melihat Joni tak memanfaatkan kesempatan kedua yang diberikan padanya dengan baik. Joni kembali terbuai rasa malas, tenggelam dalam zona nyaman. Ratih merasa Joni tak memperjuangkan hidupnya sendiri dengan sungguh – sungguh, tak cukup dapat membuktikan cintanya yang besar pada Ratih, meski Ratih tahu betul Joni mencintainya dengan tulus. Hati Ratih terus terluka, air matanya semakin sering menetes. Ratih tak dapat menahan kesendiriannya lagi, kesibukan pekerjaan dan teman – teman hanya menjadi penghibur sesaat bagi hatinya yang lara. Beberapa kali Ratih mengungkapkan keinginannya untuk pergi, tapi Joni berhasil meyakinkannya untuk bertahan. Joni mulai berjuang lagi, memperbaiki hidupnya yang lama terbengkalai.

Satu tahun lebih Joni dan Ratih dapat bertahan, tapi usaha Joni untuk menyelesaikan studi sudah sangat terlambat. Ratih mulai menghilang, mencoba semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan karir dan membiasakan menjalani hidup tanpa kehadiran sosok Joni. Ratih menyadari bahwa ia takkan sanggup mengakhiri hubungan seperti yang pernah dilakukannya, ia takkan sanggup meninggalkan Joni seperti itu. Joni mulai terguncang dan kehilangan Ratih, tapi ia pasrah, ia dapat merasakan apa yang Ratih rasakan dan memahami semua perubahan sikapnya.

Hati Ratih terlalu terluka untuk menunggu lebih lama lagi, dan ia harus melakukan sesuatu. Akhirnya Ratih membulatkan tekadnya untuk mengakhiri kisahnya dengan Joni, ia telah siap. Ratih mengakhirinya lewat sebuah tulisan, ia tetap tak sanggup mendengar suara Joni, apalagi untuk bertemu. Hati Joni bergetar hebat membaca tulisan Ratih, tubuhnya mendadak lemas. Joni sadar bahwa hal itu tak terelakkan, ia takkan lagi dapat menahan keinginan Ratih untuk pergi. Joni sama sekali tak siap menghadapi kenyataan itu, namun ia tak mau lebih kehilangan Ratih, maka Joni merelakannya pergi.

—–
Tiga tahun berlalu sejak Joni dan Ratih mengakhiri kisah perjalanan cinta mereka. Ratih kini telah menemukan tambatan hatinya yang baru, seseorang yang dapat membimbing dan membahagiakannya, seseorang yang datang dari jawaban doa – doanya. Joni pun sempat membuka dan melabuhkan hatinya pada kisah yang baru, pada seseorang yang datang untuk menemaninya melewati masa – masa sulit, kisah yang hanya sementara. Joni dan Ratih tidak pernah benar – benar saling kehilangan, sesekali mereka saling menyapa, menanyakan kabar, memberi dukungan atau semangat dan saling mendoakan. Cinta hadir dalam bentuk yang berbeda, tak semuanya harus berakhir indah seperti yang dulu mereka impikan.

Joni dan Ratih memang bukan pasangan sempurna, tapi mereka pernah melangkahkan kaki bersama.

Joni mematikan rokoknya, menghentikan pemutar musik Blackberry-nya, lalu merebahkan tubuhnya.

“You’re impossible to find…” sesalnya lagi.

Mbak Cantik; Happy Birthday

Semalam
derai tawa bisikkan nama

Doa-doa hadiahkan senyum panjang,
usia tak habis impian,
wajah tak menua harapan,
kaki tak lelah berlompatan
buru kegembiraan

Bahagialah
tiup kencang lilinmu,
kamu puisi ini satu-satunya

Selamat ulang tahun

Memoar Oktober

Aku bertemu denganmu
mungkin hanya rindu

Hari ulang tahunmu,
dalam rumah
Mungkin rumahmu, rumahku, rumah kita
Tembok putih, minimalis, tangga besar melingkar sudut ruangan
Kita cengkrama,
kau gembira

Datang sahabatmu
Bersamanya kartu ucapan dan hadiah titipan para sahabat jauh luar kota

Satu kau buka,
cat air warna-warni kuas lengkapi
Kanvas besar persegi panjang
Kau coretkan
warna-warni

Aku mengingatnya malam ini,
mungkin hanya rindu

Bahagianya dirimu