Joni dan Ratih [Sebuah Awal Dan Akhir]

…the best thing about tonight’s that we’re not fighting
could it be that we have been this way before
I know you don’t think that I am trying
I know you’re wearing thin down to the core

but hold your breath
because tonight will be the night that I will fall for you
over again
don’t make me change my mind
or I wont live to see another day
I swear it’s true
because a girl like you is impossible to find
you’re impossible to find

this is not what I intended
I always swore to you I’d never fall apart
you always thought that I was stronger
I may have failed but I have loved you from the start

so breathe in so deep
breathe me in
I’m yours to keep
and hold onto your words
’cause talk is cheap
and remember me tonight
when you’re asleep…

Malam menjelang tidur, Joni mendengarkan lagu itu lewat pemutar musik Blackberry-nya. Sambil sesekali ikut menyanyikannya, pikiran Joni melayang jauh ke masa lalu. Ya, masa lalu yang indah, saat Joni dan Ratih masih bersama.

“Ah…masa lalu yang indah, seindah body-nya Zaskia Gotik…” sesal Joni.

Joni pertama kali melihat Ratih saat masa Ospek, mereka sama – sama mahasiswa baru. Joni dan Ratih berbeda kelompok Ospek, pada saat itu Joni sama sekali tak merasakan ada sesuatu yang aneh antara dirinya dan Ratih, mungkin karena Joni masih menggalau dengan kisah cinta masa SMA-nya. Pada suatu sesi bebas saat panitia Ospek mementaskan sebuah sandiwara, tanpa disengaja Joni dan Ratih duduk bersebelahan. Joni diam saja, sok jaim, sok ganteng (padahal ancurr…) hingga tiba-tiba Ratih menawarkan sebungkus permen mint kepada Joni. Joni menerima permen itu sambil mengucapkan terima kasih, seiring dengan keruntuhan segala kegantengannya. Saat itu mereka tak bersalaman, tak saling memperkenalkan diri. Berkenalan bukanlah sesuatu yang penting saat itu, mengingat adanya papan nama (name tag) yang dengan jelas menunjukkan nama mereka masing – masing. Ratih menawarkan permen dengan wajah santai tanpa senyum, namun Joni melihat ada sesuatu yang spesial dalam diri Ratih, ada kecantikan tersembunyi dalam penampilan Ratih yang biasa saja dan tak menarik perhatian. Momen itu terekam jelas dalam ingatan Joni, dan ia tak pernah lupa.

—–
“Jon, ayo ke kantin, ny-unrise dulu kita bro…” ajak seorang teman. (Sunrise: vodka + greensands + kratingdaeng)

Joni pun berlalu, meninggalkan Ratih dari pandangannya, menyimpan kembali momen masa Ospek dalam lemari memorinya, lalu lanjut minum oplosan. Dasar Joni laknat.

Waktu berlalu, Joni maupun Ratih melanjutkan kehidupan dan kisah cinta masing – masing. Masa kuliah tak pernah mempertemukan mereka meski hanya untuk berbincang ringan atau bersenda gurau seperti teman – teman lainnya. Sesekali Joni memperhatikan Ratih dari jauh, diam – diam, kadang hanya lewat sudut mata.

Kisah cinta Joni selepas SMA tak pernah berjalan mulus, selalu gagal dan berakhir tanpa catatan manis. Joni pernah dekat dengan seorang gadis, tetapi Joni melepasnya karena merasa hatinya tak cukup penuh untuk gadis itu. Selepas itu Joni kembali merajut cinta dengan kekasihnya semasa SMA, tapi tak lama, cinta itu memang ditakdirkan untuk kandas. Sempat pula Joni jatuh hati pada seorang gadis satu kampus yang bukan Ratih, namun isi hatinya tak pernah terungkapkan, mungkin karena Joni terlalu banyak minum oplosan. Joni pun sempat terlibat kisah cinta rumit dengan gadis kampus sebelah yang penuh intrik dan tak jelas ujung pangkalnya. Semua kisah cinta itu akhirnya hanya menguap dan sebatas menjadi pelajaran pendewasaan bagi Joni. Tapi ingat, Joni tak pernah lupa, tak pernah bisa.

—–
Ratih membuka ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat dan mengirimnya ke nomor – nomor yang ada di phonebook, sebagian besar teman – teman kampus, teman gereja dan teman komunitas lainnya. Pesan itu berisi penawaran pembuatan cokelat spesial hari Valentine yang dapat dikirimkan langsung ke tempat tujuan. Ratih dan beberapa teman berinisiatif membuat usaha pembuatan cokelat custom yang dapat dipesan sesuai permintaan menjelang hari Valentine.

Saat itu Ratih baru beberapa bulan putus dari kekasihnya. Kisah cinta Ratih lebih berwarna, kalau tak boleh dibilang tragis. Masa SMA dijalani Ratih dengan normal layaknya remaja lainnya, tentu juga dibumbui kisah cinta yang harus berakhir seiring fase baru kehidupan: masuk universitas. Memasuki masa kuliah, Ratih menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang sayangnya tak menghargai dan menghormati Ratih sepenuhnya. Setelah itu, Ratih sempat dekat dengan beberapa lelaki yang hanya berlalu dan tak juga berhasil menaklukkan hatinya. Ratih sosok yang aktif dan bersemangat, selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus maupun luar kampus, termasuk bekerja sambilan. Terakhir, Ratih merangkai asmara dengan seorang lelaki satu kampus, namun harus berakhir karena terlalu banyak permasalahan dan rasa sakit yang harus diterima, bahkan terlalu menyakitkan untuk diungkap disini. (helehh…)

Ratih depresi, lama dan dalam, namun ia bangkit, melangkah lagi.

—–
Malam belum berumur panjang, Joni hendak beranjak untuk pergi mandi saat tiba – tiba terdengar suara:

cukicakicukicakicuuukk… cukicakicukicakicuuukk… cukicakicukicakicuuukk…

Ringtone ponsel Joni berbunyi, ada pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal. Joni segera membukanya, isinya tentang penawaran pembuatan cokelat spesial hari Valentine yang dapat dikirimkan langsung ke tempat tujuan. Joni tak tertarik pada penawaran itu, tetapi karena penasaran, Joni membalasnya:

- Maaf, ini siapa ya? Tau nomer saya dari mana? Thx.

Tak berapa lama pesan singkat itu berbalas, Joni menunda mandinya.

- Ini Ratih. Ayooo pesen cokelatnya buat Valentine, buat pacarnya atau gebetannya, bisa dikirim langsung kerumahnya lho. :)

Joni semakin menunda mandinya, masih penasaran dan malah curhat. Rendah sekali Joni ini.

- Oohh…hehehehe ak mo ngirimi siapa coba, utk sementara valentine taun ini ga ada yg ak kirimi coklat. Hahaha.. Btw km tau nomerku darimana? hehehe..

Entah kenapa, Joni jadi agak sumringah dan berharap semoga pesan singkat-nya segera dibalas.

- Ga tau, emang udah ada aja di phonebookku. Ya udah km pesen coklat trus kirim buat ak ajaa. Hahahaha…

Begitulah pesan singkat itu mengalir dan seterusnya, dan seterusnya.

Empat tahun memang telah berlalu sejak Joni dan Ratih resmi menjadi mahasiswa, mereka sudah jarang terlihat di kampus, begitu pun dengan teman – teman se-angkatan lainnya. Hari – hari tetap berjalan seperti biasa, tapi Joni tak pernah lupa, dia masih mengingatnya.

Sesekali Joni dan Ratih berkirim pesan singkat, tidak setiap hari, hanya untuk saling menyapa atau sekedar curhat. Joni dan Ratih sama – sama belum mau membuka hati sepenuhnya untuk suatu hubungan yang baru, mereka ingin menjalani saja apa yang ada. Sekitar 3 (tiga) bulan lamanya Joni dan Ratih berkomunikasi lewat pesan singkat tanpa sekalipun bertemu. Penghargaan nobel tertinggi harus diberikan kepada penemu pesan singkat karena hanya lewat pesan singkat inilah Joni dan Ratih menjadi semakin akrab. Hingga pada suatu sore, Joni memberanikan diri untuk mengajak Ratih bertemu. Modusnya, Joni ingin membawakan camilan kesukaan Ratih yang selama beberapa hari terakhir menjadi topik perbincangan mereka di pesan singkat. (Jon…Jon…bisa aja lu Jon…) Akhirnya disepakati Joni dan Ratih bertemu di kampus, kebetulan pada waktu itu Ratih sedang menjalankan tugas jaga laboratorium kampus.

—–
Setelah mandi dan wangi, mencukur kumis dan jenggot, berdandan kasual tapi tetap keren, Joni berangkat ke kampus. Berbekal camilan modus yang telah dibeli di mini-market terdekat, Joni memarkirkan sepeda motornya tepat di depan tangga selasar kampus. Pesan singkat pun dikirim ke Ratih untuk mengabarkan agar Ratih segera menuju ke TKP (Tempat Ketemuan Pertama). Ya, ini adalah “pertemuan” pertama mereka sejak bertahun – tahun tak saling menyapa, tak sempat saling mengenal.

Kebetulan di dekat tangga itu ada sebuah meja kayu dan dua bangku yang berhadapan, tempat biasa satpam kampus duduk. Joni duduk menunggu sambil mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak lama, Ratih turun dari tangga, Joni berdebar hatinya. Ratih muncul dengan pakaian santai: T-shirt, celana pendek dan sandal jepit. Perbincangan berlangsung singkat dan sedikit kaku, tak serenyah seperti percakapan mereka melalui pesan singkat. Maklum, keduanya sama – sama terlalu lama tak dijamah belaian lawan jenis, canggung berat. Keduanya mengakhiri percakapan setelah Joni memberikan camilan kesukaan Ratih. Pertemuan itu berlangsung tak lebih dari 15 (lima belas) menit.

—–
Malam – malam selanjutnya bulan jatuh ke pangkuan, langit membukakan jalan. Joni dan Ratih semakin sering bertemu, dengan berbagai modus tentunya, biasanya dengan alasan untuk membawakan camilan kepada Ratih. Sempat pula mereka berjalan – jalan ke tempat bintang – bintang terlihat seolah dapat digapai, ke tempat lautan terlihat seakan terseberangi, ke tempat cerita dan kisah begitu lepas. Mereka saling melengkapi, saling menemani. Joni dan Ratih semakin hangat.

Tibalah saatnya Ratih menanyakan kejelasan hubungan pada Joni yang sama sekali tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Pertanyaan itu merupakan sinyal positif dan Joni sangat bahagia mendengarnya, namun pertanyaan itu telah mengguncang Joni sebagai seorang laki – laki dan membuat semua rencananya berantakan. Joni shock. Joni pun menjawab seadanya dengan sok bijak dan sedikit ngeles. Jawaban Joni memang sesuai seperti yang diharapkan Ratih, tapi Ratih merasa kurang puas dan masih ada yang mengganjal. Joni pun mempercepat dan menyegerakan semua rencananya. Terjadilah drama “penembakan” selama 3 (tiga) hari yang menyita hati dan pikiran Joni.

Joni baru berhasil di hari ketiga. Seperti biasa, Joni dan Ratih mengikuti misa harian sore di gereja. Sebelum menjemput Ratih untuk pergi ke gereja, Joni telah menyiapkan sekuntum mawar merah untuk memuluskan rencananya. Sepanjang perjalanan hingga akhir misa, Joni menyembunyikan mawar itu di kantong jaket bagian dalam. Selepas misa, Ratih memejamkan mata untuk doa penutup, Joni dengan hati – hati meletakkan mawar merah itu tepat di samping Ratih, di antara mereka berdua. (…prikitieww…icikiwiirrr…) Saat Ratih membuka mata, ia mendapati mawar itu dan meraihnya. Joni kembali menyatakan cintanya, mata Ratih berbinar bahagia, senyum tak lepas dari wajah cantiknya.

Ratih tak langsung secara eksplisit menjawab pernyataan cinta dari Joni, tapi Joni sudah tahu jawabannya, dan ia tak perlu itu. Yang Joni perlukan adalah Ratih selalu bahagia dan dapat lebih bahagia lagi, apapun yang diimpikannya, bersama atau tidak bersamanya. Keesokan paginya, saat matahari baru tiba dari perantauan, Ratih menjawab pernyataan cinta Joni. Pagi itu mereka menapak ke tahapan baru, meski sesungguhnya mereka telah menjadi sepasang kekasih lama sebelum itu.

—–
Sejak awal Joni tak pernah lupa, memang ada sesuatu yang spesial dalam diri Ratih. Kepribadian Ratih sederhana, namun penuh semangat dan ambisi, ia tak pernah bisa hanya duduk berdiam diri, ia terus berlari. Kehidupan telah menempanya menjadi seorang gadis yang memiliki kemauan keras untuk menggapai semua mimpinya. Ratih dengan sendirinya menularkan semangatnya pada Joni yang memang dasarnya pemalas. Joni melihat kehidupan Ratih, belajar banyak darinya, dan mulai menata hidupnya lagi. Masa – masa awal Joni dan Ratih memadu kasih, banyak cobaan datang menghampiri, kesalahpahaman menjadi bumbu cerita perjalanan, kehidupan mengajarkan mereka untuk menjadi lebih dewasa. Joni dan Ratih memang bukan pasangan sempurna, namun mereka mantap melangkahkan kaki bersama, tak ada yang dapat menghentikan mereka.

Tujuh bulan yang indah dan penuh warna sejak Joni dan Ratih resmi memadu kasih di kota yang sama, namun Ratih harus kembali ke kota asalnya karena telah menyelesaikan kuliahnya. Ratih hendak merangkai cita – citanya disana, sekaligus membantu orang tua menjaga adik – adiknya. Joni melepasnya dengan berat hati, namun juga dengan doa dan dukungan agar semua yang diimpikan Ratih dapat segera tercapai. Joni dan Ratih melanjutkan kisahnya, terpisah jarak ratusan kilometer jauhnya. Sesekali jika ada kesempatan, Joni dan Ratih saling bertemu, saling mengunjungi, mengisi baterai semangat yang habis dikikis rindu.

—–
Jarak memang menjadi salah satu hambatan saat itu, selain kuliah Joni yang tak kunjung selesai. Ratih mulai lelah, tak kuat menahan kesendirian, ternyata hidup memang jauh berbeda. Sembilan bulan lamanya Ratih mencoba bertahan, akhirnya ia tak kuat juga. Ratih menemui Joni, berderai air mata, meminta untuk mengakhiri hubungan. Joni tak kuasa menahan keinginan Ratih, ia terlalu menyayanginya.

…di sisi jendela kereta yang mulai perlahan melaju
meninggalkan panas kotamu
ku diam terpaku saat kereta tlah melaju kencang dan menjauh
dan Monas pun menghilang dari pandangan mata

wangi yang biasa kaupakai masih melekat
seraya menemani langkahku pulang
langit pun mulai menghitam
sejenak ku terlelap mimpikan semua
dan kau hadir hiasi semua mimpi
namun tak seperti yang kuharapkan
sekejap semua berubah cepat
menusuk hati terdalam

dan kau buyarkan
buyarkan semua yang telah terjadi
dan tak ada waktu ‘tuk berpikir
kembalilah
kembalilah seperti apa adanya
jangan berakhir seperti ini
seperti ini…

Tak sampai 1 (satu) bulan sejak Joni dan Ratih sepakat berpisah, mereka bertemu kembali, tampaknya keterikatan mereka masih terlalu kuat, hati Joni dan Ratih sesungguhnya tak pernah ingin berpisah. Joni dan Ratih kembali menjalani hubungan kasih. Joni menyadari betul ini kesempatan kedua baginya, dan bagi Ratih ini akan menjadi kesempatan terakhir yang diberikannya untuk Joni.

—–
Bulan demi bulan berlalu, beberapa kali mereka masih menyempatkan bertemu, love is still in the air, namun Ratih mulai melihat Joni tak memanfaatkan kesempatan kedua yang diberikan padanya dengan baik. Joni kembali terbuai rasa malas, tenggelam dalam zona nyaman. Ratih merasa Joni tak memperjuangkan hidupnya sendiri dengan sungguh, tak cukup dapat membuktikan cintanya yang besar pada Ratih, meski Ratih tahu betul Joni mencintainya dengan tulus. Hati Ratih terluka dan terus terluka, air mata semakin sering menetes di pipinya. Ratih tak dapat menahan kesendiriannya lagi tanpa kehadiran Joni disisinya, teman – temannya pun hanya menjadi penghibur sesaat bagi hatinya yang lara. Beberapa kali Ratih mengungkapkan keinginannya untuk pergi, tapi Joni berhasil meyakinkannya untuk bertahan. Joni mulai berjuang lagi, memperbaiki hidupnya yang lama terbengkalai.

Satu tahun lebih Joni dan Ratih dapat bertahan, tapi usaha Joni untuk menyelesaikan kuliah sudah sangat terlambat. Ratih mulai menghilang, mencoba menenggelamkan diri dalam kesibukan karir dan membiasakan menjalani hidup tanpa kehadiran sosok Joni. Ratih menyadari bahwa ia takkan sanggup mengakhiri hubungan seperti yang pernah dilakukannya, ia takkan sanggup meninggalkan Joni seperti itu. Joni mulai terguncang dan kehilangan Ratih, tapi ia pasrah, ia dapat merasakan apa yang Ratih rasakan dan memahami semua perubahan sikapnya.

Hati Ratih terlalu terluka untuk menunggu lebih lama lagi, dan ia harus melakukan sesuatu. Akhirnya Ratih dapat membulatkan tekadnya untuk mengakhiri hubungan dengan Joni, ia telah siap. Ratih mengakhirinya lewat tulisan, ia tetap tak sanggup mendengar suara Joni, apalagi untuk bertemu. Hati Joni bergetar hebat membaca tulisan Ratih, tubuhnya mendadak lemas. Joni sadar bahwa hal itu tak terelakkan, ia takkan lagi dapat menahan keinginan Ratih untuk pergi. Joni sama sekali tak siap menghadapi kenyataan itu, namun ia tak mau lebih kehilangan Ratih, maka Joni merelakannya pergi.

—–
Tiga tahun berlalu sejak Joni dan Ratih mengakhiri kisah perjalanan cinta mereka, kehidupan terus berjalan. Ratih kini telah menemukan tambatan hatinya yang baru, seseorang yang dapat membimbing dan membahagiakannya, seseorang yang datang dari jawaban doa – doanya. Joni pun sempat membuka dan melabuhkan hatinya pada kisah yang baru, pada seseorang yang datang untuk menemaninya melewati masa – masa sulit, kisah itu hanya sementara dan kini telah berakhir. Joni dan Ratih tidak pernah benar – benar saling kehilangan, sesekali mereka saling menyapa, menanyakan kabar, memberi dukungan atau semangat dan saling mendoakan. Cinta hadir dalam bentuk yang berbeda – beda, tak semuanya harus berakhir indah seperti yang mereka impikan.

Joni dan Ratih memang bukan pasangan sempurna, tapi mereka pernah melangkahkan kaki bersama.

Joni mematikan rokoknya, menghentikan pemutar musik Blackberry-nya, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.

“You’re impossible to find…” sesalnya lagi.

*cerita ini bukanlah fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, waktu, dan peristiwa, itu bukanlah kebetulan dan memang ada unsur kesengajaan

Cemburu

Aku cemburu
pada cermin kamarmu
pada jepit rambutmu
pada udara wangi karenamu

Aku cemburu
pada kertas putih ujung penamu
pada jawaban pertanyaan-pertanyaanmu
pada cahaya kotak kaca tangkapmu

Tak mengapa meski aku tetap cemburu
pada jalan sempit peraduanmu
pada tangan genggam tanganmu
pada ‘selamat malam’ layar handphone-mu
pada wajah lain hadir dari doamu

Aku cemburu,
pada kekasihmu

Memoar Oktober

Aku bertemu denganmu malam itu,
mungkin hanya rindu

Hari ulang tahunmu,
kita dalam rumah, berdua
Tak ingat pasti rumahmu, rumahku, rumah kita
Temboknya putih, minimalis, tangga besar melingkari sudut ruangan
Kita bercengkrama,
kau bergembira

Datang sahabatmu riang
Bersamanya dibawa kartu-kartu ucapan dan bermacam kado titipan para sahabat jauhmu di luar kota

Satu kado kau buka,
sepaket cat air warna-warni lengkap dengan kuas
Kanvas besar persegi panjang putih telah tersedia
Kau mulai coretkan,
warna-warni

Aku mengingatnya malam ini,
mungkin hanya rindu

Kau bahagia sekali saat itu

Untuk Adikku Tersayang

Saatnya tiba,
air mata akan buka kembali kenangan perjuanganmu
Kemasi rapat barang – barangmu, bersama cahaya bernama impian
Lihat jalan terang itu, dekaplah

Kau telah dewasa,
melangkah lebih dulu
Terima kasih teman dalam sepi
Maafkan tak pernah bisa jadi panutan – tak selalu ada
Kutitipkan sepercik doa, lewat masa lalu yang membiru,
aku pasti akan rindu

Nikmati hari – hari ini, seperti saat terindahmu disini
Gelak tawa sahabat akan jadi pengantar perjalanan
Genggam erat tiket pulangmu, sebuah sajak rindu dari kekasihmu,
dan peluk haru bapak ibu

Aku menuliskan ini dengan air mata,
meski kita memang berbeda jalan.